Stok Pertamax di Buleleng Tandas, Pemerintah Minta SPBU Prioritaskan Layanan Darurat

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:39 WIB
MENGULAR: Antrean kendaraan mengular di SPBU Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Sejumlah SPBU di Kota Singaraja mulai kehabisan stok bensin. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MENGULAR: Antrean kendaraan mengular di SPBU Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Sejumlah SPBU di Kota Singaraja mulai kehabisan stok bensin. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kondisi krisis dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Buleleng dipastikan belum sepenuhnya pulih. 

Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UMKM (Disdagperinkop UMKM) Buleleng mengungkapkan bahwa alokasi pasokan BBM yang masuk ke kawasan Bali utara hingga saat ini masih terbilang sangat minim jika dibandingkan dengan kebutuhan harian normal.

Kepala Disdagperinkop UMKM Buleleng, Dewa Made Sudiarta, membeberkan fakta lapangan mengenai drastisnya penurunan pasokan BBM dari Pertamina. 

Untuk jenis Pertamax, pasokan yang diterima Buleleng saat ini anjlok parah dan hanya menyentuh angka 5 persen dari kuota normal.

”Kondisi pasokan riil yang kita terima memang belum kembali normal dan masih kecil. Contohnya Pertamax, pasokan riil saat ini hanya 7 ribu liter, padahal dalam kondisi normal kuota harian kita mencapai 132 ribu liter,” ujarnya.

Begitu juga dengan Pertalite yang pasokannya baru terealisasi sekitar 219.870 liter dari kebutuhan normal sebesar 349 ribu liter per hari.

Menyikapi keterbatasan pasokan tersebut, Disdagperinkop Buleleng telah menjalin komunikasi intensif dengan seluruh pengelola SPBU di Kabupaten Buleleng. 

Pihaknya meminta SPBU untuk memprioritaskan pelayanan bagi kendaraan kedaruratan, seperti ambulans dan armada kedaruratan lainnya.

Meski demikian, Sudiarta menekankan agar skema prioritas kedaruratan di lapangan dikawal ketat oleh aparat keamanan demi mencegah timbulnya gesekan maupun kericuhan di tengah antrean warga yang sudah mengular.

”Kami sudah koordinasi dengan SPBU agar siap mendukung layanan kedaruratan sepanjang stok masih tersedia. Namun, untuk layanan kedaruratan ini perlu dikomunikasikan secara baik bersama aparat pengaman di lapangan, supaya tidak memicu kericuhan saat ada kendaraan kedaruratan yang memotong antrean panjang,” tegasnya.

Di sisi lain, Sudiarta juga meminta pihak SPBU dan Pertamina untuk lebih terbuka dalam menyampaikan informasi mengenai ketersediaan stok produk di masing-masing SPBU kepada masyarakat. 

Hal ini penting agar warga tidak terjebak mengantre berjam-jam di SPBU yang ternyata mengalami kekosongan pasokan.

”Kami minta ada informasi yang jelas mengenai stok yang tersedia di SPBU, sehingga kasihan warga yang sudah mengantre lama tapi ternyata produknya tidak ada. Warga bisa mengalihkan pengisian ke SPBU lain yang stoknya memang siap,” ujarnya.

Dari hasil pantauan tim Disdagperinkop Buleleng di 21 SPBU se-Kabupaten Buleleng, sebagian besar pengecer atau kios Pertamini sudah tidak lagi beroperasi lantaran ketiadaan barang, sehingga penumpukan pembeli kini sepenuhnya terpusat di SPBU resmi.

Mengenai potensi penimbunan, Sudiarta menyatakan hingga saat ini pihaknya belum menemukan indikasi praktik penimbunan di tingkat pedagang karena memang pasokan dari hulu yang masuk ke Buleleng masih sangat minim. 

Meski demikian, pihaknya tak segan membawa ke jalur hukum jika ditemukan oknum yang sengaja mencari keuntungan pribadi di tengah kesulitan warga.

”Kalau ada penjualan yang sengaja memanfaatkan situasi untuk memperkaya diri, pasti akan kami laporkan ke aparat hukum. Kami terus mendorong dan berkoordinasi agar Pertamina bisa segera memaksimalkan penyaluran pasokan ke Buleleng,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Berita Buleleng Hari Ini SPBU Buleleng Kelangkaan BBM Buleleng Disdagperinkop Buleleng Pertamax Buleleng