Perang Timur Tengah Hantam Pariwisata Bali. Tingkat Hunian Hotel Terjun Bebas

RadarBuleleng.id - Gejolak konflik geopolitik di Timur Tengah mulai terasa hingga ke sektor pariwisata Bali.
Dampaknya, jumlah wisatawan dari kawasan tersebut menurun drastis akibat pembatalan perjalanan, yang berujung pada turunnya tingkat hunian hotel.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengungkapkan ketegangan global tersebut berdampak langsung pada kunjungan wisatawan, khususnya yang memanfaatkan penerbangan dari Uni Emirat Arab (UEA).
"Lihat saja harga minyak naik sampai 25 persen, ini yang membahayakan. Dunia harus prihatin. PBB harus bereaksi keras supaya tidak berlarut-larut karena berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga," ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, selama ini Bali sangat bergantung pada lima hub penerbangan utama dari Timur Tengah, yakni Dubai, Arab Saudi, Abu Dhabi, Qatar, dan Doha.
Namun, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat banyak wisatawan membatalkan kunjungan ke Pulau Dewata.
Di sisi lain, muncul tren baru di mana warga dari Timur Tengah maupun Amerika Serikat justru mencari tempat aman di kawasan Asia, termasuk Bali.
Negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia dinilai lebih aman karena menerapkan politik bebas aktif.
"Bali menjadi salah satu tempat favorit yang dirasa paling aman. Mereka sedang mengoordinasikan bagaimana agar penerbangan bisa tetap sampai ke Bali dan mereka tinggal di Bali sampai perang usai," jelasnya.



