SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Desa Les di Kecamatan Tejakula terus memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata unggulan Bali Utara.
Terkini, desa tersebut menjalani asesmen lapangan dalam rangka sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan.
Penilaian dilakukan untuk memastikan kualitas pariwisata berbasis masyarakat yang ramah lingkungan, berdaya saing, sekaligus berlandaskan prinsip pelestarian.
Kegiatan berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Les dengan menghadirkan tim asesor nasional, yakni Prof. Winda Mercedes Mingkid, Prof. Nurlisa Ginting, dan Reagan Brian.
Mereka meninjau langsung berbagai aspek desa wisata, mulai tata kelola destinasi, atraksi, kearifan lokal, hingga pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Desa Les selama ini dikenal memiliki potensi wisata bahari, kerajinan tradisional, serta budaya Bali Mula yang masih terjaga.
Baca Juga: Coreng Citra Pariwisata! Nekat Curi Ransel Milik Wisatawan, Polisi Tangkap Staf Hotel di Nusa Penida
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Suksma Oktiva Askara menjelaskan, asesmen berlangsung selama dua hari.
Tim akan melakukan verifikasi data terhadap kondisi faktual perkembangan pariwisata di desa tersebut.
“Sertifikasi akan menjadi legasi penting bagi Desa Les untuk menyandang predikat desa wisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan branding pariwisata Buleleng,” jelasnya.
Dody menambahkan, sertifikasi ini diharapkan membuka peluang bagi Desa Les untuk melangkah ke ajang internasional.
“Hasilnya bisa menjadi pijakan agar Desa Les mampu bersaing dalam kompetisi global, termasuk Best Tourism Village yang digelar UNWTO,” ujarnya.
Kesiapan masyarakat setempat juga terlihat dari dukungan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Segara Gunung.
Ketua Pokdarwis, Nyoman Nadiana mengatakan, sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada 2017, berbagai potensi alam, budaya, dan ekonomi lokal terus dikembangkan.
“Kami memiliki wisata bahari, air terjun, jalur trekking, hingga wisata edukasi pengelolaan sampah dan kebun organik. Produk UMKM seperti garam, gula lontar, minyak kelapa, dan arak juga menjadi bagian dari daya tarik kami,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, Desa Les kini mengusung konsep regenerative tourism, yakni pariwisata yang bukan hanya berkelanjutan tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Warga setempat turut mengelola homestay, menawarkan paket wisata berbasis budaya, serta aktif melakukan promosi lewat website dan media sosial.
Upaya ini membuat Desa Les semakin dikenal wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya