Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Meriah, Tradisi Mesuryak di Bali. Simbol Cinta untuk Leluhur

Juliadi Radar Bali • Senin, 5 Mei 2025 | 14:53 WIB

 

MERIAH: Tradisi mesuryak di Desa Adat Bongan, Kabupaten Tabanan, Bali. Tradisi ini sangat dinanti warga desa.
MERIAH: Tradisi mesuryak di Desa Adat Bongan, Kabupaten Tabanan, Bali. Tradisi ini sangat dinanti warga desa.

RadarBuleleng.id - Suasana penuh suka cita menyelimuti Desa Adat Bongan, Kecamatan Tabanan, Bali, tampak meriah.

Warga tumpah ruah merayakan tradisi Mesuryak. Tradisi itu rutin digelar setiap rahina saniscara kliwon kuningan atau hari raya Kuningan, tiap tahunnya. Kali ini, tradisi itu berlangsung pada Sabtu (3/5/2025) lalu.

Tradisi ini memiliki makna mengantarkan roh leluhur kembali ke Nirwana. Tradisi ini juga menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. 

Sejak pukul 10.00 WITA, usai sembahyang di sanggah merajan, Pura Dalem, dan di depan kori rumah masing-masing, warga berkumpul di depan rumah. 

Mereka kemudian melemparkan uang ke udara, sebagai sebuah simbol sukacita sekaligus bentuk punia bagi para leluhur.

Pecahan uang yang dilempar pun beragam, mulai dari pecahan Rp 2 ribu hingga Rp100 ribu. 

Semuanya menjadi rebutan anak-anak, pemuda-pemudi hingga orang tua. Mereka larut dalam tradisi tersebut.

“Setiap tahun saya ikut Mesuryak. Memang kadang jatuh-jatuhan berebut uang, tapi seru, penuh kebersamaan,” ujar Rama, seorang pemuda di Desa Bongan. 

Pada hari raya Kuningan tahun ini, ia berhasil mengumpulkan sekitar Rp 300 ribu. Rencananya uang akan ia gunakan sebagai bekal sekolah, sebagian akan dibagikan kepada adik-adiknya.

Kelian Adat Banjar Bongan, Gede Komang Suparman mengatakan, sekitar 80 kepala keluarga berpartisipasi melemparkan rejekinya dalam bentuk uang. Menariknya, tradisi ini tak hanya digelar di Bali. 

Warga asal Desa Bongan yang kini bermukim di daerah transmigrasi seperti Lampung, juga tetap melestarikan tradisi Mesuryak di perantauan.

“Ini bentuk bakti kepada leluhur. Dulu menggunakan kepeng atau uang bolong, sekarang sudah diganti uang kertas,” ujarnya.

Meski bentuknya berubah, tapi makna spiritualnya tetap sama. Yakni mengantarkan roh leluhur kembali ke sunia loka dengan suka cita.

Suparman mengungkapkan, tradisi Mesuryak juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan. 

Usai acara, para pemuda biasanya berkumpul di balai banjar untuk menghitung hasil tangkapan mereka dan bercengkerama. “Semangat gotong royong dan rasa kekeluargaan sangat terasa,” pungkas Suparman. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #kuningan #uang #hari raya #leluhur #tradisi #Desa adat #mesuryak #tabanan