Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Banyak Lontar Rusak karena Salah Simpan, Ini Langkah Gedong Kirtya

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯
RAWAT LONTAR: Tim dari Museum Lontar Gedong Kirtya saat melakukan perawatan lontar milik masyarakat.
RAWAT LONTAR: Tim dari Museum Lontar Gedong Kirtya saat melakukan perawatan lontar milik masyarakat.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Upaya pelestarian warisan leluhur terus digencarkan Dinas Kebudayaan Buleleng melalui Museum Gedong Kirtya. 


Advertisement

Tahun ini, museum lontar di Bali itu mulai turun langsung ke masyarakat untuk menginventarisasi dan merawat lontar milik warga. 

Tim bergerak melakukan konservasi di delapan titik yang tersebar di enam kecamatan. Tim melakukan konservasi sejak akhir April hingga Mei.

Kegiatan pendataan dan konservasi dimulai dari Banjar Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng. 

Advertisement

Di lokasi tersebut, tim berhasil mendata 19 cakep lontar milik Jro Mangku Desa yang mukim di Bale Agung. 

Lontar-lontar tersebut memuat beragam teks penting, seperti Usada, Wariga, Kekawin Bharata Yuda, Kalapasan, hingga Sundari Gama dan Pasewakan. Dari keseluruhan lontar, enam di antaranya ditemukan dalam kondisi rusak berat.

Tim juga menyambangi titik-titik lain sesuai dengan permintaan warga. Guna melakukan identifikasi dan konservasi lontar.

Advertisement

Kepala Museum Gedong Kirtya Buleleng, Dewa Ayu Susilawati menjelaskan, program tersebut bukan pendataan. Tim juga melakukan pembersihan, perawatan, serta edukasi kepada pemilik lontar mengenai tata cara penyimpanan yang tepat.

“Banyak lontar rusak karena pemiliknya belum tahu bagaimana cara merawat dan menyimpan lontar dengan benar. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu sekaligus memberikan edukasi. Harapannya, lontar-lontar warisan leluhur ini bisa tetap terjaga,” jelas Susilawati.

Menariknya, jika dalam proses inventarisasi ditemukan lontar yang belum tercatat dalam koleksi Museum Gedong Kirtya, tim akan meminta izin pemilik untuk melakukan duplikasi. 

Lontar hasil duplikasi ini nantinya akan menjadi koleksi tambahan di museum, yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

“Kalau ada lontar yang belum kami miliki dan pemiliknya bersedia diduplikasi, itu akan menambah kekayaan referensi museum. Semakin banyak lontar yang diduplikasi, semakin banyak pula pengetahuan yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang,” demikian Susilawati. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Advertisement

Artikel Terkait

Harga Rumah di Bali Naik, Dipicu Peningkatan Harga Bahan Bangunan

Harga Rumah di Bali Naik, Dipicu Peningkatan Harga Bahan Bangunan

Harga properti residensial Bali naik 1,02 persen pada triwulan II 2026. Rumah menengah mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,52 persen secara tahunan.

Koster Sebut Buleleng Punya ‘Rezeki’ Sendiri, Gerokgak Disiapkan Jadi Kawasan Ekonomi Pariwisata

Koster Sebut Buleleng Punya ‘Rezeki’ Sendiri, Gerokgak Disiapkan Jadi Kawasan Ekonomi Pariwisata

Gubernur Bali Wayan Koster menyebut Buleleng punya potensi berbeda dari barat hingga timur. Gerokgak disiapkan sebagai kawasan ekonomi pariwisata.

Seorang Pria di Bali Diduga Kerap Lecehkan Pengendara Perempuan. Polisi Ungkap Sudah 10 Kali Beraksi

Seorang Pria di Bali Diduga Kerap Lecehkan Pengendara Perempuan. Polisi Ungkap Sudah 10 Kali Beraksi

Pria berinisial IWCA, 25, diamankan warga di Abiansemal setelah diduga melecehkan pengendara perempuan. Polisi mendalami pengakuannya yang disebut pernah beraksi 10 kali.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer