Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Komunitas Eco Enzyme Buleleng Olah Sampah Upakara Jadi Solusi Ramah Lingkungan

F
Penulis: Francelino Junior❯

 

SEMPROTKAN CAIRAN: Proses penyemprotan eco enzyme ke tumpukan sampah yang menggunung di TPA Bengkala.
SEMPROTKAN CAIRAN: Proses penyemprotan eco enzyme ke tumpukan sampah yang menggunung di TPA Bengkala.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Persoalan sampah seolah tidak pernah ada habisnya. Namun di tengah tantangan itu, berbagai inovasi bermunculan untuk menekan volume limbah, salah satunya dari Komunitas Eco Enzyme Nusantara (EEN) Kabupaten Buleleng.


Advertisement

Komunitas ini menjadi unik karena mengolah sampah sisa upacara keagamaan Hindu, seperti canang, bunga, dan buah-buahan.

Sampah-sampah tersebut mereka olah menjadi cairan ramah lingkungan bernama eco enzyme. 

Langkah itu sekaligus mendukung program Pemprov Bali dalam memerangi sampah berbasis kearifan lokal.

Advertisement

“Kami bekerja sama dengan Undiksha untuk membuat eco enzyme dari sisa-sisa yadnya. Sampah upakara itu sangat banyak, jadi kami manfaatkan agar bisa kembali ke alam,” ujar I Nyoman Sutrisna, Humas Komunitas EEN.

Sutrisna menjelaskan, eco enzyme berfungsi sebagai katalisator alami yang membantu menyuburkan tanah dan meningkatkan daya serap unsur hara pada tanaman. 

Cairan tersebut juga digunakan untuk mengurangi pencemaran dan bau tak sedap di TPA Bengkala, sungai-sungai di Kota Singaraja, serta lingkungan padat penduduk.

Advertisement

Ketika banjir melanda Denpasar beberapa waktu lalu, komunitas ini bahkan turun langsung menyemprotkan eco enzyme di area terdampak guna mengurangi pembusukan dan polutan di air.

“Di TPS 3R Nekat Kedas Setra Buleleng, sudah terkumpul sekitar enam hingga tujuh ton eco enzyme. Kami juga kirim ke Bima, Situbondo, hingga Aceh,” imbuh pria yang juga Kelian Desa Adat Buleleng itu.

Sejak terbentuk pada 2019, Komunitas EEN Buleleng kini memiliki 297 orang anggota aktif. 

Mereka rutin melakukan edukasi pengolahan sampah berbasis sumber ke sekolah-sekolah, instansi pemerintah, banjar adat, yowana, hingga gereja. 

Tak hanya anggota, masyarakat umum pun banyak yang ikut belajar membuat eco enzyme.

Menurut Sutrisna, gerakan ini menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus mahal atau berteknologi tinggi. 

Justru kearifan lokal dan semangat gotong royong dapat menjadi kekuatan besar untuk menekan krisis sampah dan polusi.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Limbah bukan lagi masalah, tapi bisa jadi sumber daya bernilai,” tutupnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Advertisement

Artikel Terkait

Dukung Penuh Program MBG, Koster-Giri Siapkan Aset Tanah Milik Pemerintah

Dukung Penuh Program MBG, Koster-Giri Siapkan Aset Tanah Milik Pemerintah

Pemprov Bali dukung penuh program Makan Bergizi Gratis Prabowo-Gibran dengan siapkan aset lahan. Sebanyak 600 ribu lebih sasaran di Bali masuk data penerima.

Giri Prasta Buka Suara soal Isu "Menghilang" Saat Kelangkaan BBM: Gubernur Koster Di-Prank Pertamina

Giri Prasta Buka Suara soal Isu "Menghilang" Saat Kelangkaan BBM: Gubernur Koster Di-Prank Pertamina

Wagub Bali Giri Prasta buka suara soal isu absen saat kelangkaan BBM. Sebut Gubernur Koster sempat di-prank Pertamina dan jelaskan pembagian peran kepemimpinan.

Bali Terima Hibah 11 Bus Listrik dari Korea Selatan, Bakal Layani Koridor GOR Ngurah Rai-GWK

Bali Terima Hibah 11 Bus Listrik dari Korea Selatan, Bakal Layani Koridor GOR Ngurah Rai-GWK

Bali menerima hibah 11 bus listrik dari Korea Selatan. Armada akan diuji coba hingga Desember dan direncanakan melayani rute GOR Ngurah Rai-GWK.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer