Mencari SIM Card di Negeri Tirai Bambu. Tak Ada WhatsApp, Tak Ada Google


Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
RadarBuleleng.id - Dua hari pertama saya di Tiongkok (China) nyaris berlalu tanpa aktivitas berarti. Sejak tiba pada Senin (11/5/2026), sebagian besar waktu hanya dihabiskan untuk beristirahat di apartemen kampus. Penerbangan panjang dari Indonesia ternyata cukup menguras tenaga.
Maklum, usia sudah mendekati kepala empat. Energi bepergian belasan jam tanpa jeda kini jelas berbeda dibanding masa-masa masih muda dulu.
Di sela waktu istirahat itu, ada satu urusan penting yang harus segera dituntaskan. Yakni membeli SIM card mainland Tiongkok.
Bukan sekadar untuk komunikasi, tapi juga demi menghemat pengeluaran. Tarif roaming operator Indonesia, jujur saja, bikin dompet menjerit bila dipakai berbulan-bulan.
Awalnya saya berpikir urusan membeli SIM card di Tiongkok akan semudah di Bali.
Di Pulau Dewata, wisatawan asing bisa dengan gampang mendapatkan kartu perdana. Terutama begitu keluar dari terminal kedatangan internasional.
Cukup tunjukkan paspor, IMEI ponsel, dan alamat tinggal sementara. Dalam hitungan menit, kartu sudah aktif dan siap dipakai.



