Aroma Gas Berbalut Batubara dalam Proyek Pembangkit Listrik di Celukan Bawang


Cerita warga Celukan Bawang muncul di tengah wacana transisi energi. Sejak September 2024 muncul wacana tentang pembangunan Pembangkit Listrik Gas (PLTG) di Celukan Bawang. Namun warga masih mempertanyakan apakah pembangkit baru benar-benar akan meninggalkan batubara.
PAGI itu, Selasa (30/3/2026), tim medis dari Puskesmas Gerokgak I, mendatangi Balai Dusun Celukan Bawang, di pusat desa Celukan Bawang. Mereka melakukan pengecekan kesehatan kepada masyarakat setempat. Mayoritas para lansia.
Tim puskesmas mengklaim, pengecekan kesehatan itu hanya pengecekan kesehatan rutin. “Itu program cek kesehatan gratis (CKG). Setiap bulan dari Puskesmas rutin melakukan pengecekan kesehatan ke desa-desa di wilayah kerja,” kata Kepala Puskesmas Gerokgak I, dr. Nobella.
Desa Celukan Bawang merupakan salah satu desa yang rentan dengan penyakit. Pemicunya keberadaan PLTU Celukan Bawang yang mulai beroperasi sejak 2015 silam.
Hal itu terungkap dalam bertajuk “Toxic Twenty; Daftar Hitam 20 PLTU Paling Berbahaya di Indonesia” yang ditulis oleh tiga organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan, yakni CELIOS, CREA, dan Trend Asia. Ketiganya memasukkan PLTU Celukan Bawang sebagai salah satu PLTU yang paling berbahaya di Indonesia.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa dampak kesehatan dari 20 PLTU paling berbahaya di Indonesia atau Toxic Twenty menyebutkan terdapat setidaknya 156.000 kematian dini akibat polusi udara dan biaya ekonomi dari kerugian kesehatan hingga Rp 1,81 triliun. Tak hanya itu, timbul dampak kesehatan berupa stroke, penyakit paru, kanker paru, hingga diabetes.
Juru Kampanye Trend Asia, Novita Indri, meyakini paparan debu batubara berdampak pada kesehatan masyarakat. Utamanya dalam kurun waktu yang cukup lama.
“Ada proyeksi jika PLTU Celukan Bawang beroperasi hingga 2050, ini akan menimbulkan dampak ISPA, gangguan saluran pernapasan, bronkitis, dan penyakit lainnya. Ini memang baru proyeksi, karena pemerintah tidak pernah membuka data emisi secara transparan,” ujar Novita.
Interaksi masyarakat Celukan Bawang dengan partikel akibat pembakaran Batubara sudah berlangsung cukup lama. Tatkala awal PLTU beroperasi pada 2015, limbah debu pembakaran diangkut menggunakan dump truck.



