Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belajar Mandarin di Beijing: Saat Kelas Bahasa Berubah Jadi Ujian Menahan Lapar

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯
BELAJAR BAHASA MANDARIN: Suasana saat para jurnalis dari Asia Pasifik dan Eropa mempelajari Bahasa Mandarin di Renmin University of China. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
BELAJAR BAHASA MANDARIN: Suasana saat para jurnalis dari Asia Pasifik dan Eropa mempelajari Bahasa Mandarin di Renmin University of China. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

Advertisement

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

ADA satu pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya saat mengikuti kelas Bahasa Mandarin di Beijing. 

Advertisement

Bukan soal sulitnya menghafal karakter Hanzi. Bukan pula bagaimana mengucapkan nada yang tepat agar maknanya tidak berubah. 

Pelajaran itu adalah: jangan belajar kosakata makanan saat perut sedang tidak siap.

Setelah seminggu penuh beraktivitas di Provinsi Anhui, saya bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) kembali ke Beijing. 

Advertisement

Aktivitas kami pun kembali berpusat di kampus Renmin University of China (RUC), salah satu universitas ternama di ibu kota Tiongkok.

Agenda yang disiapkan cukup padat. Mulai dari berdiskusi dengan jurnalis Chinese Global Television Network (CGTN), berlatih Tai Chi, mengunjungi Tembok Besar Tiongkok, hingga mengikuti kelas Bahasa Mandarin yang selalu menjadi salah satu kegiatan paling dinanti.

Kamis (4/6/2-26) siang itu, kami kembali duduk di bangku kelas. Jika dua pekan sebelumnya belajar bersama jurnalis dari kawasan Karibia, kali ini peserta dari Asia Pasifik digabung dengan rekan-rekan jurnalis asal Eropa.

Suasana kelas pun sedikit berbeda.

Advertisement
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng

Artikel Terkait

Menaklukkan Tembok Besar Tiongkok: Berhenti di Menara Kedua dan Menyadari Usia Tak Bisa Diajak Kompromi

Menaklukkan Tembok Besar Tiongkok: Berhenti di Menara Kedua dan Menyadari Usia Tak Bisa Diajak Kompromi

Mengunjungi Tembok Besar Tiongkok di Juyongguan menjadi pengalaman tak terlupakan. Dari ribuan anak tangga, sejarah 2.000 tahun, hingga kisah menyerah di menara kedua karena kehabisan napas.

Dari Rawa ke Pasar Dunia, Kisah Anyaman Dedalu yang Bertahan di Tengah Gempuran Teknologi Tiongkok

Dari Rawa ke Pasar Dunia, Kisah Anyaman Dedalu yang Bertahan di Tengah Gempuran Teknologi Tiongkok

Di tengah pesatnya teknologi Tiongkok, anyaman dedalu dari Kabupaten Funan, Anhui, bertahan selama 500 tahun dan kini menembus pasar dunia. Kisahnya mengingatkan pada potensi anyaman Bali Aga Buleleng.

Dari Gading Mammoth hingga Jejak Dinasti Han. Menyusuri Ribuan Tahun Peradaban di Museum Kota Fuyang Tiongkok

Dari Gading Mammoth hingga Jejak Dinasti Han. Menyusuri Ribuan Tahun Peradaban di Museum Kota Fuyang Tiongkok

Museum Kota Fuyang menyimpan 130 ribu artefak bersejarah, mulai dari gading mammoth, fosil gajah purba, hingga peninggalan Dinasti Han. Destinasi ini menjadi jendela peradaban Anhui selama ribuan tahun.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer