Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belajar dari 4.000 Tahun Peradaban Tiongkok Lewat Sepotong Tembikar Nixing

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯
TEMBIKAR: Suasana di Nixing Pottery Museum atau Museum Tembikar Nixing, Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Museum ini menyimpan ribuan artefak terkait gerabah. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
TEMBIKAR: Suasana di Nixing Pottery Museum atau Museum Tembikar Nixing, Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Museum ini menyimpan ribuan artefak terkait gerabah. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

Advertisement

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

GERABAH mungkin terlihat sebagai benda sederhana. Hanya terbuat dari tanah liat, dibentuk dengan tangan, lalu dibakar dalam suhu tinggi. Namun di Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok, gerabah justru menjadi saksi perjalanan peradaban selama ribuan tahun.

Advertisement

Saya bersama para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan menelusuri jejak panjang warisan tersebut di Nixing Pottery Museum atau Museum Tembikar Nixing. Di tempat inilah sejarah, seni, dan teknologi tradisional berpadu menjadi satu.

Museum itu menyimpan kisah tembikar yang telah berkembang selama sekitar 4.000 tahun. Ratusan koleksi dipamerkan, mulai dari replika tembikar kuno hingga karya-karya modern yang menunjukkan bagaimana kerajinan tersebut terus berevolusi tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Lebih dari 600 replika tembikar tersimpan rapi di museum itu. Sebagian merupakan reproduksi benda-benda bersejarah, sementara lainnya memiliki nilai diplomasi. 

Advertisement

Ada tembikar yang pernah diberikan kepada para kepala negara, termasuk koleksi bertanda tangan para pemimpin negara ASEAN saat penyelenggaraan China-ASEAN Expo and Business-Investment Summit beberapa tahun lalu.

Keistimewaan Tembikar Nixing ternyata tidak hanya terletak pada bentuknya, melainkan sejak proses awal pembuatannya.

Berbeda dengan kebanyakan gerabah yang hanya menggunakan satu jenis tanah liat, Nixing dibuat dari perpaduan dua material berbeda yang diambil dari tepian Sungai Qinjiang di Kota Qinzhou. Tanah liat merah berasal dari sisi barat sungai, sedangkan tanah liat putih diambil dari sisi timur.

Kedua jenis tanah itu dicampur dengan komposisi tertentu, kemudian disimpan hingga menghasilkan adonan tanah liat yang padat, halus, dan bebas kandungan berbahaya. Karena itu, produk akhirnya dipercaya aman digunakan sebagai wadah makanan maupun minuman.

Advertisement
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng

Artikel Terkait

Dari Bukit Tandus Menjadi Hutan Kota, Menyusuri Jejak Penghijauan Ambisius Pemerintah Tiongkok di Tibet

Dari Bukit Tandus Menjadi Hutan Kota, Menyusuri Jejak Penghijauan Ambisius Pemerintah Tiongkok di Tibet

Nanshan Park di Lhasa menjadi bukti ambisi Tiongkok menghijaukan Tibet. Dari bukit tandus, kawasan ini berubah menjadi hutan kota dengan lebih dari satu juta pohon dan menjadi ruang publik favorit warga.

Belajar Jianzhi, Seni Warisan Budaya di Tiongkok

Belajar Jianzhi, Seni Warisan Budaya di Tiongkok

Mengikuti kelas Jianzhi di Renmin University, Beijing, membuka pandangan tentang seni potong kertas warisan UNESCO. Selembar kertas merah ternyata menyimpan sejarah dan filosofi Tiongkok selama lebih dari 2.000 tahun.

Empat Dokumen, Satu Narasi: Cara Tiongkok Menceritakan Diri kepada Dunia

Empat Dokumen, Satu Narasi: Cara Tiongkok Menceritakan Diri kepada Dunia

Tiongkok membangun citra global melalui empat dokumen strategis. Jurnalis peserta CIPCC diajak memahami bagaimana Beijing merancang narasi pembangunan, diplomasi, dan tata kelola kepada dunia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer