Memetik Persik di Pinggu, Menikmati Manis Buah dari Negeri Panda

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
ADA pengalaman yang sama sekali tidak masuk dalam bayangan saya ketika mengikuti rangkaian kunjungan China International Press Communication Center (CIPCC) di Distrik Pinggu, Beijing, awal Agustus lalu.
Bukan melihat laboratorium pertanian dengan teknologi canggih. Bukan pula menyaksikan mesin-mesin modern bekerja di tengah hamparan ladang.
Melainkan memetik buah persik. Lalu memakannya langsung dari pohonnya.
Bagi sebagian orang, barangkali itu pengalaman biasa. Namun bagi saya yang usia sudah mendekati kepala empat, ada satu fakta sederhana yang membuat momen tersebut terasa istimewa: itulah kali pertama saya mencicipi buah persik. Bukan dari rak supermarket, melainkan beberapa detik setelah dipetik dari pohonnya.
Sore itu, bus rombongan perlahan meninggalkan kawasan perkotaan Beijing dan memasuki pinggiran Distrik Pinggu. Pemandangan di balik kaca jendela seketika berubah.
Kebun-kebun persik bermunculan di kanan-kiri jalan. Pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi. Namun nyaris setiap dahan dipenuhi buah berwarna merah muda kekuningan.
Sebagian bersembunyi di balik rimbunnya daun. Sebagian lainnya menggantung terang, seolah sengaja memamerkan kematangannya.
Beberapa menit kemudian, bus berhenti di sebuah kebun.



