RadarBuleleng.id - Isu bandara kembali mencuat menjelang ajang kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak.
Isu tersebut diprediksi akan dibawa sebagai salah satu dagangan politik, untuk meyakinkan para pemilih.
Namun wacana pembangunan bandara baru di Bali Utara tak selalu ditanggapi positif. Bahkan ada juga yang menolak.
Salah seorang yang menyampaikan penolakan adalah Ni Luh Djelantik, yang juga anggota DPD RI terpilih periode 2024-2029.
Wanita asal Buleleng itu memandang urgensi pembangunan bandara tidak perlu. Pemerintah semestinya lebih dulu membahagiakan masyarakatnya ketimbang memikirkan pembangunan bandara.
Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memperbaiki konektivitas jalan antara Buleleng dengan Denpasar. Termasuk memperbaiki akses Gilimanuk menuju Karangasem.
”Bahagiakan dulu rakyatnya barus ngurus bandara gitu lho. Memang rakyat Buleleng bisa bawa blayag (Makanan khas Buleleng) gitu ke bandara,” ujarnya.
Wanita yang juga bergerak di bidang fashion itu menyebut, dengan konektivitas jalan yang mumpuni, maka perekonomian masyarakat akan semakin baik.
Dengan akses yang semakin baik, maka pengunjung akan semakin banyak datang. Masyarakat pun bisa menjual produk khas. Hingga akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Dari sekian jalan bisa diakses dan dibuat pusat-pusat perekonomian rakyat. Kalau di kecamatan Sawan sepanjang kecamatan Sawan apapun potensinya dia kan secara adat, tradisi dan ekonomi dia punya muara,” jelasnya.
Ia mengaku akan memperjuangkan hal tersebut, setelah dirinya duduk sebagai senator di DPD RI.
“Banyak PR sebagai masyarakat. Aturan yang diperjuangkan di pusat harus yang mewakilkan masyarakat Bali harus bisa diplomasi tidak hanya sekedar berani,” tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya