RadarBuleleng.id – Angin kencang berhembus di Bali sejak beberapa hari terakhir. Fenomena itu membuat baliho para caleg roboh.
Bukan hanya itu, pohon perindang jalan juga banyak yang tumbang. Bahkan di Gianyar, peristiwa pohon tumbang menelan korban jiwa.
Badan Meteorologi Klimatolagi dan Geofisika Bali, melalui Stasiun Klimatologi Bali pun turut memberi penjelasan terkait fenomena yang terjadi belakangan ini.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri menyebutkan, fenomena angin kencang ini memang normal terjadi tiap tahunnya.
Menurutnya dalam perhitungan kalender Bali, hembusan angin kencang terjadi pada sasih kaulu. Sasih kaulu merupakan bulan kedelapan dalam kalender Bali.
Angin kencang kini juga terjadi pada sasih kaulu. Dalam perhitungan kalender Bali, sasih kaulu dimulai sejak Kamis (11/1/2024) dan akan berlangsung hingga Jumat (9/2/2024).
“Secara umum dapat dikatakan normal terjadi. Seperti kita ketahui, masyarakat di Bali menggunakan sasih sebagai pedoman penanggalan,” jelas Aminduin pada Senin (22/1/2024).
Menurutnya sasih kawulu dan kasanga identik dengan angin yang berhembus kencang.
Pola ini pun selalu terjadi setiap tahunnya. Yakni pada bulan Januari hingga Februari cenderung identik dengan angin kencang.
Secara ilmiahnya, kondisi angin kencang terjadi karena adanya perbedaan tekanan yang cukup signifikan.
“Ditambah lagi kondisi saat ini terdapat daerah tekanan rendah di sebelah selatan NTT," imbuhnya.
Perbedaan tekanan itu membentuk pusaran yang menarik massa udara. Sehingga mengakibatkan angin kencang di sebagian Jawa, Bali, hingga ke Nusa Tenggara.
Adapun daerah di Bali yang diprakirakan terdampak angin kencang adalah wilayah di pesisir selatan.
"Masyarakat diharapkan waspada terhadap dampak angin kencang seperti pohon tumbang dan lain sebagainya. Untuk wilayah perairan juga perlu diwaspadai gelombang laut tinggi yang disebabkan oleh angin kencang, yang berpotensi bahaya untuk perahu-perahu kecil," ujarnya. (*)
Editor : Eka Prasetya