RadarBuleleng.id – Rencana pembangunan jalan tol Gilimanuk-Mengwi semakin tidak jelas. Proyek juga tidak kunjung berlanjut.
Bahkan lokasi peletakan batu pertama yang dilakukan Wayan Koster yang saat itu Gubernur Bali, kini dalam kondisi mangkrak.
Warga menyatakan sudah setahun terakhir tidak ada aktivitas di sana. Alat berat juga sudah lama diangkut pelaksana proyek.
Warga pun menanti kepastian soal pembebasan lahan masyarakat yang terdampak proyek jalan tol.
Lokasi peletakan batu pertama pembangunan jalan tol itu terletak di bekas perkebunan karet milik unit perkebunan Perumda Bali.
Lahan itu sempat diratakan dengan menggunakan alat berat. Kini lahan itu mangkrak dan dipenuhi tumbuhan liar.
Warga pun tidak mendapat kepastian soal pembangunan jalan maupun soal proses ganti rugi lahan.
"Tidak tahu juga kelanjutannya, mungkin batal," kata salah seorang warga.
Sebenarnya pemerintah sempat melakukan sosialisasi pada warga. Malahan setelah sosialisasi ada kegiatan pengukuran.
Kini sudah setahun sejak sosialisasi dan pengukuran dilakukan. Sayangnya tidak ada kelanjutan informasi terkait kelanjutan proyek.
"Sudah setahun ini tidak ada informasi lagi progresnya," ujar Ida Bagus Kade Darma, salah satu warga Jembrana yang tanahnya terdampak jalan tol Gilimanuk-Mengwi.
"Mungkin batal. Saya berharap batal saja jalan tol daripada digantung seperti ini, tidak ada kepastian" imbuhnya.
Masyarakat meminta kepastian pembangunan jalan tol, karena menyangkut dengan tanah yang akan dibebaskan dan harus mencari tempat tinggal baru sebagai pengganti.
"Ketimbang ngak jelas, lebih baik batalkan saja jalan tol," terangnya.
Seperti diketahui, pembangunan jalan tol Gilimanuk-Mengwi sudah ditandai dengan peletakan batu pertama.
Seremoni peletakan batu pertama itu dilakukan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bersama Gubernur Bali I Wayan Koster di Pekutatan pada September 2022 lalu.
Sempat ada pekerjaan meratakan tanah, namun hanya berlangsung beberapa bulan. Setelah itu terhenti sampai saat ini. (*)
Editor : Eka Prasetya