Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kafe dan Restoran Menjamur di Jatiluwih, Predikat WBTB Terancam Dicabut

Eka Prasetya • Kamis, 23 Mei 2024 | 23:38 WIB

 

Wakil Delegasi Indonesia untuk UNESCO Prof Ismunandar (kiri) kunjungi konservasi mangrove di sela-sela World Water Forum di Badung, Bali, Kamis (23/5/2024).
Wakil Delegasi Indonesia untuk UNESCO Prof Ismunandar (kiri) kunjungi konservasi mangrove di sela-sela World Water Forum di Badung, Bali, Kamis (23/5/2024).

RadarBuleleng.id - Menjamurnya keberadaan kafe dan restoran di kawasan Subak Jatiluwih, Bali, berpotensi mengakibatkan predikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di subak tersebut, terancam dicabut.

Keberadaan kafe dan restoran yang terus tumbuh secara masif, justru berpotensi merusak Subak Jatiluwih yang telah diakui sebagai WBTB oleh UNESCO.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Delegasi Tetap Indonesia untuk UNESCO, Prof. Ismunandar saat ditemui di Badung, Bali, pada Kamis (23/5/2024).

Ismunandar mengatakan, dirinya sempat mengunjungi Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, disela-sela World Water Forum (WWF) Ke-10 di Bali.

Ia melihat perubahan yang cukup signifikan di sana. Yaitu munculnya restoran dan kafe di tengah sawah. Fenomena tersebut justru mengancam status WBTB yang diberikan UNESCO.

“Betul, betul (berpotensi dicabut), kemarin saya kesana juga bertemu masyarakat dan sudah bertanya, kemungkinan itu yang harus disadari,” kata Ismunandar sebagaimana dilansir ANTARA.

Baca Juga: Krama Subak Jatiluwih Gelar Ritual Nangluk Merana, Dipercaya dapat Mengusir Hama Tikus

Ismunandar menegaskan, UNESCO sudah sejak lama memberikan predikat WBTB kepada subak Jatiluwih.

Namun predikat itu tidak berlaku seumur hidup. UNESCO akan melakukan pemeriksaan berkala setiap 2 tahun sekali.

“Ada laporan berkala, tapi kalau ada masyarakat setempat atau yang merasa memeliharanya tidak bagus main rusak, tidak menepati janji awal bisa lapor, yang lebih utama bagaimana menjaga bersama bukan menunggu diperiksa atau pihak ketiga,” ujarnya.

Wakil Delegasi Tetap Indonesia untuk UNESCO itu menyayangkan masifnya pertumbuhan kafe dan restoran di wilayah tersebut.

“Sebetulnya kembali lagi ketika mengusulkan dulu nilai-nilai universalnya apa, kalau tidak cocok harus ada koreksi masyarakat,” kata Prof Ismunandar.

Lebih lanjut Ismunandar mengatakan, label UNESCO memberikan dua dampak bagi masyarakat.

Dampak pertama, bisa membantu promosi sehingga dampak ekonomi bisa dirasakan oleh masyarakat.

Dampak kedua, adalah masyarakat wajib memelihara kawasan tersebut tetap asri sebagaimana awal diusulkan.

“Kalau tidak baik bisa kemudian status itu dicabut,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #unesco #Jatiluwih #subak #wbtb #tabanan