RadarBuleleng.id - Musim tangkap lobster di Bali akhirnya tiba. Nelayan kini disibukkan dengan kegiatan memasang alat penangkap lobster, berupa bubu bambu.
Seperti yang terlihat di Tabanan. Setiap hari, nelayan akan ke tengah laut memasang bubu bambu.
Nelayan menganggap bubu bambu masih efektif digunakan. Sebab harganya relatif murah, selain itu cukup mudah dibuat.
Baca Juga: Nelayan Tejakula Dapat Bantuan Life Jacket
Salah Seorang nelayan di Pantai Yeh Gangga Tabanan, Made Purwadi menyebut, musim lobster akan berlangsung pada Juli hingga Desember nanti.
Ia menyebut hampir sebagian nelayan telah memasang bubu bambu untuk menangkap lobster di tengah laut.
Biasanya nelayan akan melaut pada pukul 03.00 dini hari. Selanjutnya puluhan bubu dilepas di tengah laut.
Lazimnya nelayan melepas bubu bambu pada kedalaman 10-15 meter. Kedalaman itu disebut kedalaman ideal bagi lobster untuk hidup/
Purwadi mengatakan, saat ini cukup banyak produksi alat tangkap lobster modern. Namun nelayan berkeyakinan alat tangkap lobster tradisional masih efektif.
“Bahan bakunya gampang. Selain itu hemat biaya. Kalau rusak, pulang melaut juga bisa servis sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Survei Seismik di Laut Buleleng: Nelayan Terbatas Melaut, Pendapatan Menurun, Kompensasi Menyusul
Untuk menarik lobster, para nelayan biasanya menggunakan ikan sebagai umpan. Seperti ikan lemuru maupun tengiri.
Setelah memasang bubu, nelayan akan kembali ke pinggir laut. Mereka harus menunggu setidaknya 24 jam, untuk memeriksa bubu itu lagi.
“Kadang satu bubu bisa dapat 2-3 ekor, kadang-kadang juga tidak dapat. Tergantung dari arus laut," ungkapnya.
Asal tahu saja, kini harga lobster sangat menjanjikan. Satu kilogram lobster dijual seharga Rp 320 ribu. Bahkan bisa tembus hingga Rp 400 ribu per kilogram. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya