Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Krisis Air Bersih Menghantui Bali. Kawasan Pesisir Jadi Korban

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Rabu, 24 Juli 2024 | 00:25 WIB

 

EMBUNG SANUR: Kawasan Embung Sanur yang sebagai konservasi air juga diperuntukkan sebagai objek wisata di Kota Denpasar.
EMBUNG SANUR: Kawasan Embung Sanur yang sebagai konservasi air juga diperuntukkan sebagai objek wisata di Kota Denpasar.

RadarBuleleng.id - Eksploitasi air bawah tanah secara berlebihan selama beberapa tahun belakangan mulai terasa dampaknya.

Bali, terutama kawasan Denpasar dan Badung, kini terancam dengan krisis air bersih.

Krisis itu bukan isapan jempol belaka. Masyarakat mulai merasakan dampaknya. Bahkan rentan menjadi semakin parah dalam beberapa tahun mendatang.

Salah satunya adalah di Desa Adat Intaran, Denpasar. Desa yang terletak di kawasan pesisir ini, mulai merasakan dampak krisis air bersih.

Baca Juga: Warga di Desa Gerokgak Krisis Air, Sumur Semakin Kering

Tokoh masyarakat Desa Adat Intaran, Agung Arya Teja menyebut kondisi air di wilayah adatnya cukup memprihatinkan. 

Sebagai daerah hilir, wilayahnya dipertemukan dengan arus sungai dari subak Renon dan Sidakarya.

"Semua itu kan tidak seperti di pegunungan airnya. Itu semua sudah keruh, banyak sampah. Jadinya di sanalah bisa dikatakan kami menerima sampah," terangnya.

Desa Adat Intaran pun telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi kawasan hilir. 

Mulai dari perlindungan mangrove hingga penanaman terumbu karang untuk menjaga kualitas air laut.

Baca Juga: Pariwisata Berkembang Pesat, Bali Selatan Terancam Krisis Air Bersih

"Kami berharap regulasi pemerintah yang mendukung dampak terhadap kami di hilir. Sehingga regulasi pemerintah itu memang melindungi kami yang di hilir," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IDEP Foundation, Muchamad Awal menyebut penggunaan air di Bali telah melebihi kapasitas siklus hidrologi.

Parahnya kondisi itu diikuti dengan intrusi air laut di beberapa daerah wisata, seperti Sanur dan Kuta. Sementara industri pariwisata terus berkembang dan memerlukan air bersih.

"Dalam kerumitan itu, skema tata kelola air Bali yang berkelanjutan dan partisipatif belum hadir untuk jadi jalan keluar," kata Awal saat ditemui di Denpasar, kemarin (23/7/2024).

Menurutnya isu air bersih sangat kompleks. Karena mempengaruhi isu-isu lain yang berhubungan langsung dengan hajat hidup masyarakat.

Seperti sektor pangan, kesehatan, lingkungan, sumber daya alam, termasuk krisis iklim.

"Mudah-mudahan masyarakat lebih peduli lagi. Sehingga bisa mendorong pemerintah membuat kebijakan yang betul-betul selaras dengan kebutuhan dan permasalahan masyarakat," kata Awal. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #krisis air bersih #denpasar #krisis air