Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Pangkas Rantai Tengkulak, Petani di Tabanan Bali Diminta Manfaatkan Platform Digital

Donny Tabelak • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 18:05 WIB
ALAT TRADISIONAL: Petani menyelesaikan pekerjaaan meratakan tanah, saat akan menanam padi di wilayah Padangsambian Kelod, Denpasar.
ALAT TRADISIONAL: Petani menyelesaikan pekerjaaan meratakan tanah, saat akan menanam padi di wilayah Padangsambian Kelod, Denpasar.

TABANAN, radarbuleleng.id - Permasalahan petani di Tabanan, panjangnya mata rantai pengolahan dan distribusi hasil panen pertanian. 

Kondisi inilah yang membuat para petani menjual hasil produksi pertanian mereka kepada tengkulak.

Akibat harga jual dari komoditi pertanian menjadi lebih murah yang membuat petani merugi. 

Salah satu yang bisa dimanfaatkan petani dengan kemajuan teknologi dapat mengakses aplikasi POStalasi. Dimana petani dapat menjual secara langsung komoditas hasil pertanian mereka. 

Hal itu diungkapkan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Tabanan, A.A Gede Dalem Trisna Ngurah ketika meresmikan inovasi platform digital bersama Manajemen Talasi dan disaksikan langsung oleh para petani di Tabanan, Jumat kemarin (9/8). 

Gede Dalem menyebut dengan platform digital POStalasi ini, petani dapat terhubung langsung untuk menjual hasil produksi pertanian.

Bahkan dari sisi harga jual lebih adil, karena tanpa melalui perantara, sehingga seluruh keuntungan didapat petani. Karena mengetahui informasi harga pasar. 

”Ini juga menjadi solusi mengurangi atau memangkas permainan tengkulak. Karena selama ini perantara tengkulak cukup mempengaruhi harga komoditi pertanian di pasaran," ungkapnya. 

Gede Dalem meminta kepada petani di Tabanan baik yang sudah memiliki kelompok dan bekerjasama dengan pihak Talasi maupun yang belum.

Untuk dapat memanfaatkan platform digital ini. Karena petani dapat menjual secara langsung kepada konsumennya. Termasuk bisa memasuki platform digital lainnya. 

Adanya platform digital POStalasi ini pihaknya akan mengintegrasikan dengan aplikasi smart city milik Pemkab Tabanan yang dikelola Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Tabanan. 

”Nanti akan kami coba integrasi dengan platform digital Pemkab Tabanan yakni Smart City," ungkapnya.  

Sementara itu Head of supply chain Talasi Dedy Supriatna mengaku saat ini sudah ada beberapa hasil komoditi pertanian di Bali dan Tabanan khususnya yang tergabung dalam POStalasi.

Seperti komoditi kopi, vanili, kakao, salak, madu, anggur dan jeruk. Bahkan pihaknya akan merambah ke hasil pertanian cabai. 

Misalnya hasil dari komoditi pertanian kopi sudah sekitar 100 ton pihaknya mampu serap dari petani kopi di Pupuan oleh Talasi dari platform digital ini. 

”Sejauh ini serapan hasil pertanian terbesar masih berada di Tabanan. Disamping pula ada ada beberapa kabupaten di Bali juga menjual hasil produksi ke Talasi," ungkapnya.  

Ia menambahkan memperkenalkan aplikasi POSTalasi di Bali kepada petani, karena melihat potensi besar dalam sektor pertanian dan pariwisata.

Bagaimana pihaknya ikut mendorong mereka petani untuk mengadopsi teknologi dalam aktivitas pertanian mereka dengan menggunakan POStalasi. 

”Agar petani mudah menjual produksi pertanian mereka. Juga dari sisi harga petani lebih dimudahkan dan diuntungkan," pungkasnya.

Disisi lain salah seorang petani Kopi asal Desa Padangan Pupuan I Nyoman Kasim yang sudah menggunakan platform digital POStalasi mengaku pihaknya sebagai petani sangat terbantu baik dari sisi harga dan pemasaran kopi yang petani Pupuan hasilkan.

Rata-rata serapan Talasi sendiri setiap satu kali pengiriman mencapai 1,3 ton. Dengan serapan seminggu dua kali. 

Kemudian dari sisi harga jauh lebih bagus mencapai Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogramnya. 

”Ini sangat membantu kami sebagai petani tidak menjual kepada tengkulak. Karena selama ini di desa tengkulak selalu membeli kopi dengan harga yang lebih murah," ucap petani berusia 56 tahun.  

Meski demikian, serapan kopi dari Talasi ada syarat yakni harus terpenuhi selain dari kualitas.

Biasanya kopi asalan atau campur artinya yang dipetik secara serabutan entah buah kopi warna hijau hingga merah masih mau menerima. Tetapi kopi yang paling bagus petik merah. 

"Nanti mereka yang menentukan harga, namun bergantung dari kualitas kopi," tandasnya. ***

Editor : Donny Tabelak
#platform digital #komoditi #petani #tengkulak #pertanian