Diikuti pula dengan harga kopi yang relatif tinggi. Kondisi ini pun membuat petani sumringah, pasalnya hasil dan harga kopi meningkat tinggi dibandingkan tahun 2023 lalu.
Produksi pertanian kopi yang meningkat, karena disebabkan oleh cuaca yang mendukung saat ini.
Petani kopi Pupuan Dewa Made Darsana mengatakan para petani di Pupuan sedang menikmati hasilnya.
Karena produksi kopi petani pada tahun ini sedang meningkat drastis. Para petani pun mensyukuri hasil panen raya.
"Hasil kopi bagus saat ini dibandingkan tahun lalu sedikit, sekarang rata-rata meningkat," ujarnya Jumat (16/8).
Saat ini hasil panen kopi robusta yang berada di sentra pertanian kopi Kecamatan Pupuan, Tabanan per hektar mencapai 1,5 ton sampai 2 ton. Berbeda pada tahun 2023 lalu per hektarnya yang hanya mencapai 6-7 kwintal.
Faktor meningkatkan hasil produksi kopi ini karena cuaca yang sangat mendukung.
Artinya cuaca tidak terus menerus panas ataupun tidak terus-terusan hujan. Kondisi cuaca yang mendukung proses pembuahan kopi baru.
”Jadi cuaca yang sangat mendukung, sangat mempengaruhi hasil panen kopi yang bagus sekali tahun ini," ungkapnya.
Bahkan yang paling membuat petani bernafas lega itu adalah dari segi harganya. Saat ini harga kopi varian green bean per kilogramnya tembus diangka Rp 65.000.
Meskipun menurut Dewa Darsana harganya menurun dibandingkan bulan Juli 2024 lalu mencapai Rp 75.000 per kilogram. Namun harganya ini masih cukup tinggi.
”Ya kalau dibandingkan tahun lalu rendah sekali diangka Rp 25.000 sampai Rp 28.000 per kilogram," pungkas petani Desa Munduk Temu, Pupuan.
Sementara itu Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian (Distan) Tabanan, Sintha Oktaviani mengakui bahwa petani di Tabanan sedang panen raya kopi robusta. Bahkan hasilnya pun meningkat.
Berdasarkan data pertanian kopi di Tabanan. Luasnya saat ini mencapai 9.584,87 hektar. Terbesar berada di di Kecamatan Pupuan atau wilayah Selemadeg Raya.
Dengan produksi kopi yang mencapai 5.589,12 ton.
”Dari beberapa laporan awal produksi kopi meningkat karena cuaca yang sedang mendukung," pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak