RadarBuleleng.id - Isu soal adanya ancaman gempa megathrust berkekuatan 9,0 skala richter turut membuat warga di Seririt, Buleleng resah.
Maklum, warga di Seririt punya trauma cukup dalam soal gempabumi. Sebab warga di sana pernah menjadi korban gempa berkekuatan 6,2 skala richter pada 14 Juli 1976.
Isu gempa itu praktis membuat warga gelisah. Mereka khawatir bila gempa itu benar-benar terjadi.
“Khawatirnya kan bukan hanya gempa. Tapi juga tsunami. Apalagi katanya di Seririt ini kan rentan tsunami,” ujar warga tersebut.
Baca Juga: Bencana Alam Mengintai, Begini Cara BPBD Buleleng Cegah Korban Jiwa
Menyusul merebaknya informasi tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Made Rentin mengatakan informasi tersebut jadi peringatan dini dan untuk kesiapsiagaan semua. BPBD Bali telah melakukan upaya mitigasi.
”Di seluruh dunia, di semua daerah pun berpotensi terjadinya gempa, ketika BMKG memetakan Bali sebagai salah satu yang berpotensi terjadinya megathrust. Kami di BPBD melakukan berbagai upaya mitigasi dan kesiapsiagaan,” kata Rentin.
Rentin mengatakan, BPBD Bali melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Ia menghimbau masyarakat tidak panik karena gempa tidak hanya berpotensi di Bali saja.
”Apalagi Indonesia lebih-lebih Bali yang notabene berada di dalam Ring of Fire,” jelasnya.
Baca Juga: Persitiwa Tanah Longsor Terjadi di Tiga Titik di Gianyar Bali, Ini yang Dilakukan BPBD
Menurutnya, pemerintah telah berupaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Caranya dengan melakukan simulasi uang rutin dilakukan pada tanggal 26 setiap bulannya.
Di dalamnya ada latihan, melatih diri, melatih personil, memastikan semua peralatan dan logistik berfungsi dengan baik
“Simulasi itu kata kunci untuk melatih diri ketika tiba-tiba tidak diminta gempa terjadi. Masyarakat kita tidak panik, di satu sisi tahu strategi penyelamatan diri,” katanya.
Selain itu, Rentin juga menyarankan masyarakat untuk tidak berlari keluar saat gempa terjadi. Pihaknya mengatakan biasanya masyarakat panik, terutama anak sekolah saat terjadi gempa.
“Sedapat mungkin ketika gempa terjadi, kita berupaya tidak berada di dalam gedung, berupaya untuk keluar melakukan evakuasi, berkumpul di safe point atau titik kumpul yang telah disediakan,” terangnya.
Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir, Made Rentin menghimbau untuk selalu waspada dan mengikuti perkembangan informasi.
Masyarakat juga diminta memasang aplikasi Inarisk Personal dan Info BMKG, sehingga dapat menerima notifikasi terkait kejadian gempa dan potensi ancaman lainnya secara real-time.
“Secara personal di HP kita akan mendapat notifikasi terjadi gempa dengan kekuatan sekian skala richter, dengan jarak dan kedalaman di titik koordinat tertentu, dan berpotensi atau tidak berpotensi terjadi tsunami,” papar Rentin. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya