Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Gawat, Laporan Gigitan Anjing di Buleleng Capai 3.504 Kasus

Francelino Junior • Minggu, 25 Agustus 2024 | 03:05 WIB

 

Ilustrasi anjing rabies di kabupaten Buleleng Bali.
Ilustrasi anjing rabies di kabupaten Buleleng Bali.

SINGARAJAradarbuleleng.id - Hingga bulan Juli 2024, ternyata ada 3504 laporan kasus gigitan anjing di Kabupaten Buleleng.

Hal ini diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha.

Untuk diketahui, anjing merupakan salah satu hewan penular rabies (HPR). Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat sejak bulan Januari hingga Juli 2024 ada ribuan kasus gigitan HPR di Bali utara.

Kata dr. Arya, hal itu menunjukkan bahwa anjing liar di Buleleng sejatinya masih banyak.

Namun itu tidak dibarengi dengan kesadaran bahwa gigitan terhadap manusia, juga akan menyebabkan rabies.

Ia mengingatkan, upaya paling dini dan baik adalah menghindari terjadinya gigitan. Contohnya, dengan tidak melepasliarkan anjing peliharaan.

”Penanganan gigitan anjing memiliki resiko besar. Kalau sudah positif rabies, resiko kematiannya mencapai 100 persen,” ujarnya pada Sabtu (24/8).

Dinkes Buleleng pun tetap mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada. Ini dilakukan agar tidak ada kasus rabies akibat gigitan HPR.

Apalagi melihat data dari Provinsi Bali, Kabupaten Buleleng sejak awal Januari sampai tanggal 20 Agustus 2024 menduduki urutan kedua dengan kasus rabies terbanyak, yaitu 42 kasus.

Terkait hal itu, Arya Nugraha memastikan bila bila sebagian gigitan yang dilakukan anjing maupun HPR lainnya ternyata rabies.

”Tetapi untung korbannya segera mendapatkan VAR (Vaksin Anti Rabies). Sehingga terbebas dari infeksi rabies,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Direktur RSUD Buleleng itu.

Lalu bagaimana dengan ketersediaan VAR? Dinkes Buleleng mengaku saat ini jumlah vaksin tersebut ada 3200 vial.

Yang mana jumlah tersebut dikatakan masih dalam kategori aman. Jika satu pasien yang digigit anjing positif rabies membutuhkan empat vial, maka vaksin tersebut, lanjut dr. Arya, cukup untuk 800 orang.

Ia menyebutkan bila penggunaan VAR pada seseorang yang digigit anjing rabies, tentu 100 persen dapat mencegah adanya virus rabies.

Namun sebaliknya, bila sudah terkena rabies, maka tingkat kematiannya sudah 100 persen.

Tugas masyarakat yang tergigit bukan datang kemudian minta VAR, tetapi konsultasi terkait indikasi mendapatkan vaksin.

Petugas kesehatan kemudian menghitung skor dan mencermati faktor penyebab gigitan hingga kondisi anjing atau observasi.

”Tapi jangan baru digigit langsung minta VAR. Itu malah menimbulkan kekacauan yang akibatnya VAR tidak efisien, karena faktor gigitan tidak selalu disebabkan anjing rabies,” sambung dr. Arya. ***

Editor : Donny Tabelak
#HPR #anjing rabies #vaksinasi #diskes buleleng #rabies