RadarBuleleng.id - Rencana pembangunan kereta bawah tanah alias subway di Bali Selatan, berpotensi mematikan moda transportasi lain.
Selain itu, keberadaan subway dikhawatirkan menimbulkan titik kemacetan baru. Mengingat titik-titik stasiun subway berada di kawasan padat kendaraan dan rawan macet.
Hal itu diungkapkan guru besar Universitas Udayana, Prof. Rumawan Salain. Pria yang juga pakar transportasi publik itu mengaku cukup kaget dengan rencana pembangunan subway di Bali.
Menurut Rumawan, Pemprov Bali harus memikirkan aspek sosial dan kultur terkait dengan keberadaan moda transportasi itu.
Baca Juga: Bangun Akses Menuju Bandara, Koster Usul Kereta Api Lintas Bali
Rumawan menegaskan dirinya ragu dengan pembangunan subway yang disebut-sebut bisa mengatasi kemacetan di Bali Selatan.
”Semua tahu macet. Apakah ini menuntaskan macet? Kalau saya bilang tidak. Karena akan memindahkan kemacetan tempat lain. Tidak mencakup pada publik yang di maksud. Saya bilang maaf, di samping teknologi mahal infrastruktur mahal sekali,” ujar Rumawan, kemarin (5/9/2024).
Ia meyakini subway justru akan memunculkan kemacetan yang baru, karena moda transportasi publik di Bali belum terintegrasi.
Selain itu keberadaan subway justru akan mematikan moda transportasi lain. Seperti taksi dan ojek,
”Misalkan di bandara tidak ada taksi. Mau kemana taksinya. Ini harus serius ngitungnya,” katanya.
Baca Juga: Proyek Kereta Bawah Tanah Bali Selatan Dimulai. Targetnya, Warga KTP Bali Gratis Tiket
Rumawan juga bertanya-tanya dengan kajian pembangunan. Menurutnya pembangunan dengan nilai fantastis, kajiannya justru tidak terbuka.
”Teman-teman saya di DPR RI saya tidak pernah dengar mereka presentasi. Karena ini proyek ratusan triliun gampang-gampang menjual Bali. Saya takut Bali lagi dijual,” ungkapnya.
Asal tahu saja, pembangunan Bali Urban Subway mulai dilakukan, ditandai dengan prosesi ngeruak yang dilakukan Pj, Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya.
Subway tersebut diproyeksikan terdiri dari empat koridor yang terpusat di Sentral Parkir Kuta. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya