Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Hasil Pertanian Tak Sebanding, Petani di Denpasar Bali Ramai-ramai Jual Sawah

Marsellus Nabunome Pampur • Senin, 9 September 2024 | 23:45 WIB

  

WASPADA GAGAL PANEN: Areal persawahan di Jembrana yang baru ditanami padi.
WASPADA GAGAL PANEN: Areal persawahan di Jembrana yang baru ditanami padi.

DENPASAR, radarbuleleng.id-Kondisi lahan produktif seperti persawahan di Denpasar, khususnya di Desa Adat Peguyangan Denpasar kian susut.

Banyak petani yang akhirnya memutuskan menjual lahannya kepada pihak lain untuk dikembangkan menjadi pemukiman.

Hal itu dikarenakan hasil dari pertanian yang didapatkan para petani jauh lebih sedikit. 

Hal itu disampaikan langsung oleh Bendesa Adat Desa Adat Peguyangan, Denpasar, I Ketut Sutama.

Dia menjelaskan, untuk menjaga lahan pertanian di kawasan kota memang cukup sulit dan memiliki tantangan yang berat.

”Karena sementara ini, hasil yang didapatkan dari pertanian sangat jauh dibandingkan dengan alih fungsi lahan itu sendiri," katanya, Minggu kemarin (8/9).

Menurutnya, dengan kecilnya pendapatan para petani, peluang alih fungsi lahan semakin terbuka lebar.

Penyusutan lahan produktif itu sudah terjadi sebelum tahun tahun 2016 silam. Bahkan saat itu kata dia, jumlahnya cukup besar.

Sejak 2016 hingga Bali dilanda pandemi Covid 19, penyusutan lahan berkurang drastis. 

Hal itu kemungkinan karena petani enggan menjual lahannya karena harga yang ditawarkan cukup murah.

”Karena harga tanah saat itu sempat turun sehingga alih fungsi lahan saat itu tidak sempat besar. Tapi tahun-tahun ke depan ini, harga tanah makin tinggi, orang semakin banyak yang mau menjual lahan," sambungnya.

Meski harga lahan sekarang ini cukup tinggi, masih banyak juga pembelinya.

Di desa adat Peguyangan Denpasar sendiri, kata dia, ada beberapa subak. Dan salah satu subak yang bertahan adalah Subak Sembung. Sedangkan yang lain sudah hampir habis karena alih fungsi lahan.

Lanjut dia, rata-rata para petani di subak sudah tak mengharapkan penghasilan utama dari pertanian.

Mereka sudah beralih profesi. Ada yang bekerja di pariwisata dan swasta lainnya. Hal itu pun membuat pertanian hanya menjadi usaha sampingan.

Bahkan ada pula para pemilik lahan sawah yang akhirnya memutuskan menyerahkan lahannya kepada pihak lain dengan sistim bagi hasil. ***

Editor : Donny Tabelak
#pertanian #sawah #subak #Desa adat