Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Terlibat Sindikat Jual Beli Bayi, Polisi Gerebek Yayasan di Bali

Juliadi Radar Bali • Kamis, 19 September 2024 | 02:18 WIB

 

JUAL BELI BAYI: Suasana di rumah yang digunakan sebagai sekretariat Yayasan Bali Luwih. Yayasan itu terlibat dalam praktik jual-beli bayi.
JUAL BELI BAYI: Suasana di rumah yang digunakan sebagai sekretariat Yayasan Bali Luwih. Yayasan itu terlibat dalam praktik jual-beli bayi.

RadarBuleleng.id - Aparat kepolisian belum lama ini menggerebek yayasan Bali Luwih di Desa Banjar Anyar, Tabanan, Bali, karena terlibat praktik jual-beli bayi.

Penggerebekan itu dilakukan Polres Metro Depok, yang juga melibatkan tim dari Polda Bali dan Polres Tabanan.

Dalam penggerebekan itu, Ketua Yayasan Bali Luwih berinisial IMA telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus jual beli bayi.

Setelah dilakukan penggerebekan, yayasan pun langsung tutup. Bahkan kini berganti nama menjadi Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia (LPKNI) Cabang Tabanan.

Meski begitu, rumah tersebut masih dihuni oleh para pekerja yayasan. Mereka adalah Kokom Komala, Citra, Alis Suryani dan Ratna yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, serta Komang Oktavia yang berasal dari Karangasem. 

Salah seorang pekerja yayasan, Alis Suryani menyebut Yayasan Bali Luwih tutup sejak kasus jual beli bayi mencuat.

Ia mengaku tidak tahu pasti soal peristiwa yang terjadi. Yang ia tahu, polisi datang ke yayasan bersama Dinas Sosial Provinsi Bali saat melakukan penggerebekan. 

"Saya juga ikut diperiksa, bahkan handphone saya juga disita polisi," kata Alis.

Alis mengaku bekerja di yayasan itu pada akhir tahun 2023. Selama ia bekerja, ada sekitar 11 orang ibu hamil yang dirawat di yayasan.

Ibu hamil yang dirawat di yayasan itu, seluruhnya berasal dari luar Bali. Pihak yayasan pun rutin memfasilitasi pemeriksaan kesehatan mereka di rumah sakit.

Nah dari 11 orang ibu hamil itu, sebanyak tiga orang telah pulang setelah melahirkan. Sedangkan delapan orang lainnya masih berada di yayasan.

Saat penggerebekan terjadi, para ibu hamil itu juga masih ada di yayasan. Mereka kemudian dievakuasi ke rumah aman milik Dinas Sosial Tabanan.

"Kalau bayinya untuk dijual belikan saya tidak tahu," ungkapnya. 

Lebih lanjut Alis mengatakan dirinya tidak terlalu mengenal sosok IMA selaku ketua yayasan. Terakhir kali dia bertemu IMA pada Juli lalu.

Itu pun hanya datang untuk memberikan gaji kepada pengasuh dan menengok kondisi yayasan. Setelah itu IMA kembali ke Jawa Barat.

Sementara itu Kapolres Tabanan, AKBP Citra Candra Kesuma mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Polda Bali dan Dinas Sosial Tabanan. 

"Saat ini proses masih penyelidikan. Kami masih berkoordinasi dengan Kasubdit IV Direskrimum  Polda Bali. Apakah cukup hanya penyelidikan dan penyidikan dari Polres Metro Depok saja," ungkapnya. 

Pihaknya kini tengah mendata terhadap yayasan dan panti asuhan yang melakukan kegiatan adopsi-adopsi anak dan bayi. 

“Apakah mereka (yayasan) sudah sesuai prosedur dan jalur hukum atau tidak. Mereka memiliki ijin atau tidak,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #bayi #bandung #yayasan #tabanan #jawa barat