Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Lapor Pak! Anak-Anak di Bali Diajarkan Melukis dan Menari Secara Gratis

Marsellus Nabunome Pampur • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 19:05 WIB
Anak-anak komunitas tampak sedang asik belajar melukis dan menari di Komunitas Om Hara Kailasha Painter Gianyar, Bali.
Anak-anak komunitas tampak sedang asik belajar melukis dan menari di Komunitas Om Hara Kailasha Painter Gianyar, Bali.

radarbuleleng.id- Sejak 2010, Komunitas Om Hara Kailasha Painter sudah aktif mengajari anak-anak di sekitar Banjar Keliki Kawan, desa Kelusa, Payang, Gianyar, Bali.

Bahkan tak jarang juga ada beberapa anak-anak dari Banjar lain yang terlibat dalam komunitas ini. 

Adalah I Wayan Mardika, sosok di balik berdirinya komunitas ini. Dedikasinya terhadap dunia seni bermula dsri upayanya untuk terus menghidupkan gaya lukis Keliki Kawan Style.

Dimana gaya seni lukis ini sempat buming di masanya dan merupakan salah satu style melukis yang cukup lama ada di Bali.

Lewat komunitas ini, Mardika berupaya meregenerasi para penerus gaya lukis Keliki Kawan Style.

Pasalnya, menurut dia sudah banyak seniman yang mulai meninggalkan seni lukis dan beralih profesi, salah satunya ke dunia pariwisata.

Sejak tahun 2010, dia lalu merangkul anak-anak sekolah dasar hingga SMP di sekitar rumahnya. 

Anak-anak itu kemudian diajarkan melukis Keliki Kawan Style secara gratis, alias tanpa dipungut biaya apa pun.

Dia bahkan juga menyediakan sarana melukis seperti kuas, kertas, cat warna, pensil dan perangkat lainnya secara gratis. 

”Sudah banyak anak yang belajar gratis di sini sejak 2010 silam. Yang ada sekarang ini jumlahnya sekitar 36 orang anak, laki-laki dan wanita," katanya saat ditemui di tempat belajar Komunitas Om Hara Kailasha Painter, Banjar Keliki Kawan, desa Kelusa, Payang, Gianyar.

Dia menjelaskan, di era tahun 70-an hingga 90-an, lukisan miniatur Keliki Kawan Style cukup terkenal.

Namun sejak era Bom Bali 1 dan Bom Bali 2, peminat lukisan ini khususnya dari kalangan mancanegara turun drastis. Walhasil, para senimannya pun akhirnya beralih mencari pekerjaan lain.

”Saya punya rasa prihatin dan tanggungjawab. Saya mencari anak-anak dan mengajari mereka melukis dan 2010 membentuk komunitas. Saya perkenalkan ke museum-museum dan 2014 sudah ada pameran di museum. Akhirnya minatnya mulai bangkit lagi. Sampai sekarang jalan," ungkapnya.

Saat ini sejumlah karya lukis dari anak-anak yang belajar di komunitas ini juga dipajang di sejumlah pameran.

Jika ada kolektor yang membeli lukisan tersebut, maka uang yang dihasilkan akan menjadi milik dari sang pelukis itu sendiri. Komunitas tak memintah jatah sepeser pun.

”Kalau ada tamu yang beli lukisan mereka, itu uangnya buat mereka juga. Intinya saya melakukan pengabdian melalui karya seni saya," tambahnya.

Selain mengajarkan melukis secara gratis, di komunitas ini, anak-anak juga bisa belajar menari secara gratis.

Tarian yang diajarkan biasanya jenis tarian yang biasa dipentaskan di upacara-upacara keagamaan di pura.

Adalah Ni Putu Sudarmi. Wanita berusia 23 tahun yang juga merupakan guru sekolah dasar di SDN 2 Kelusa ini turut mengabdikan dirinya.

Dia mengajari anak-anak di komunitas Om Hara Kailasha Painter menari.

”Saya diajak bergabung ke komunitas ini untuk mengajari anak-anak menari. Saya terima dengan senang hati, apalagi ini untuk kepentingan pelestarian budaya," katanya.

Sudarmini sendiri merupakan guru dan juga pengajar tari yang juga kerap melatih anak-anak lain di sekitar Banjar tempat tinggalnya.

Baginya, mengajarkan anak-anak menari merupakan bagian dari pengabdiannya terhadap seni dan budaya Bali.***

Editor : Donny Tabelak
#Komunitas Om Hara Kailasha Painter #menari #melukis