radarbuleleng.id- Musisi Bali Robi Navicula yang konsisten menyuarakan tentang penyelamatan lingkungan ikut memeriahkan Subak Spirit Festival yang diselenggarakan di Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Minggu kemarin (10/11).
Musisi bernama lengkap Gede Robi Supriyanto dengan performance akustik membawa beberapa lagunya yang bercerita tentang lingkungan untuk menghibur wisatawan dan para pengunjung Subak Spirit Festival.
Mulai dari lagu berjudul Balada Petani, Metamorfosa kata, Mafia Hukum hingga Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti.
Menurutnya lagu-lagu dimainkan di Subak Spirit Festival masih hal yang sama lebih menyadarkan betapa pentingnya lingkungan terutama soal Subak di Bali.
Subak salah satu ikon dan warisan budaya yang mana erat kaitan dengan alam, karena landscape alam di Bali adalah pertanian. Selain itu subak sebagai sistem irigasi yang menghidup pertanian di Bali.
Subak menjadi salah satu simbol alam budaya yang memiliki keterkaitan dari dulu dengan konsep pariwisata di Bali yakni alam dan budaya.
Soal subak ini mau tidak mau harus konsisten dipertahankan. Itu kecuali berganti konsep pariwisata di Bali bukan berbasis alam dan budaya.
"Jadi saya fikir subak tidak semata sebuah simbol, karena apa kalau hanya berbentuk simbol saja tidak kuat. Maka harus kolaborasi atensi pemerintah, masyarakat, petani dan ekosistem lainnya," ujarnya.
Robi menyebut selama ini masyarakat di Bali mengenal dengan Pura Subak yang masih ada dan berfungsi.
Namun Pura Subak meski ada upacara atau ritual dilakukan, hanya saja subak dan sistem pengairan sudah tidak berfungsi. Terutama itu pada wilayah yang pesat dengan pertumbuhan pariwisata.
"Nah itu sama saja dengan ada ritual, tapi etika sama tatwa tidak ada. Sementara di Bali sendiri ada ritual, etika dan tatwa," ungkapnya.
Maka dalam merawat subak, lanjutnya, petani di Bali ini harus dipertahankan diberikan jaminan.
Salah satunya keluarga dari petani, sehingga ada keberlanjutan generasi untuk merawat subak.
Misal memberikan subsidi pupuk, kesejahteraan dari sisi jaminan kesehatan hingga bagaimana penerus mereka diberikan beasiswa gratis.
"Ini pesan-pesan yang bisa disampaikan, bahkan soal lagu Balada Petani yang saya ciptakan pada zaman SMA tahun 1996, ternyata masih relevan dengan kehidupan petani di Bali yang belum diperhatikan soal jaminan kesejahteraan di sektor pertanian," pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak