SINGARAJA, radarbuleleng.id- Ratusan tunanetra di Kabupaten Buleleng diajar untuk mengenal aksara Bali, dengan menggunakan metode meraba relief.
Pelatihan ini digelar oleh akademisi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha pada Senin (18/11) pagi.
Sebanyak 100 orang siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dan anggota Persatuan Tunanetra (Pertuni) Kabupaten Buleleng ikut serta dalam pelatihan ini.
Mereka dilatih langsung oleh mahasiswa FIP Undiksha secara langsung. Pelatihan in berlangsung sejak tanggal 7-28 November.
Alat yang digunakan disebut Reaksi, yang merupakan kepanjangan dari Relief Aksara Bali.
Dalam prakteknya, para tunanetra akan meraba relief aksara Bali yang tercetak pada sebuah kotak kayu.
Tidak ada huruf braille dalam kotak tersebut, namun hanya ada cetakan relief aksara Bali.
Nantinya, usai mereka meraba sampai ujung akhir, akan muncul suara yang mengenalkan bentuk aksara yang mereka raba itu.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Undiksha, Gede Rasben Dantes mengatakan, inovasi ini merupakan salah satu realisasi dari pendanaan yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Realisasi inovasi ini memang sangat menarik, sebab membantu para penyandang disabilitas utamanya tunanetra, dalam belajar dan mengenal aksara Bali.
Apalagi ditambah dengan balutan teknologi, membuat pembelajaran menjadi semakin menarik.
”Ini berguna untuk mahasiswa, sebagai bentuk inovasi pembelajaran. Untuk tunanetra jadi lebih mudah belajar. Sekaligus sebagai upaya pelestarian aksara Bali. Ini sangat inovatif,” ujar Rasben Dantes.
Sementara itu, Putu Prima Suta, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng menyebutkan, kalau pendidikan memang tidak memandang kondisi seseorang.
Alias semua warga masyarakat harus diperlakukan sama rata.
Inovasi yang muncul untuk tunanetra ini pun sangat relevan dengan kurikulum merdeka, yang di dalamnya terdapat revitalisasi bahasa daerah.
Sebab untuk zaman sekarang, kata Prima Suta, banyak generasi muda yang tidak tahu bahasa ibu.
Sehingga dengan adanya inovasi yang dibalut dengan teknologi ini, setidaknya membuat ketertarikan tak hanya bagi tunanetra saja, melainkan juga bagi generasi muda untuk mendalami bahasa daerahnya melalui aksara Bali.
Pihaknya berharap, semua inovasi yang muncul dapat dikerjasamakan dengan Disdikpora dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng.
Sehingga dapat dimunculkan dalam berbagai kegiatan pemerintah.
”Dengan inovasi-inovasi ini, membuat roh Singaraja sebagai Kota Pendidikan sangat terasa. Sebab dipenuhi dengan inovasi-inovasi yang berkaitan dengan cara belajar,” ujarnya.***
Editor : Donny Tabelak