RadarBuleleng.id - Studio tato di Jalan Trenggana, Denpasar itu sepintas terlihat sepi. Nyaris tidak tampak aktivitas di dalam studio tersebut.
Namun saat masuk ke dalam studio, dengung suara mesin tato langsung hinggap di telinga. Malam itu, seorang tattoo artist tampak suntuk mengerjakan tato di tangan seorang konsumen.
Studio itu adalah Kink Tattoo Studio. Salah satu studio tato yang tersohor di Bali. Selain di Jalan Trenggana, Kink Tattoo juga membuka studio di kawasan Canggu.
Kink Tattoo Studio berawal dari tangan Putu Agus Eka Prasantika, 38. Bermula dari sebuah studio tato, kini usahanya beranak pianak menjadi penyedia bahan-bahan pembuatan tato, perawatan tato, serta penyuplai pakaian. Studionya juga menjadi salah satu studio pilihan para wisatawan mancanegara yang liburan ke Bali.
Agus mengungkapkan, dirinya sudah tertarik dengan seni gambar pada tubuh itu sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) atau yang kini lebih dikenal dengan nama SMKN 1 Sukawati. Selepas SMK, dia memutuskan melanjutkan kuliah ke Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada 2007.
Saat kuliah, dia menempuh pendidikan pada jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Bersentuhan dengan materi-materi visual selama kuliah, membuat dirinya semakin tertarik dengan tato.
Perlahan dia mempelajari seni tato secara otodidak. Karya tato pertamanya bergambar backbone (Tulang Belakang ). Karya itu ia buat pada punggung kakak sepupunya.
Agus akhirnya memutuskan membuka studio tato pada tahun 2009. Studio pertamanya terletak di Jalan Tukad Barito, Denpasar. Tepatnya di distro Mayhem
Awal mendirikan studio tato, dia bingung harus memberikan nama apa. Belakangan dia ingat, jika teman-teman di perkuliahan menjuluki dirinya dengan sebutan Kink. Hal itu tak lepas dari kegemaran Agus mendengarkan musik dari band Linkin Park.
“Ada yang panggil saya linkin, ada yang memanggil saya kink. Jadilah teman-teman saya di Jalan Trijata (Denpasar) memanggil saya dengan nama Kink,” tutur Agus. Belakangan nama itu pula yang ia jadikan sebagai nama studio tato.
Tahun demi tahun, nama Kink Tattoo semakin dikenal. Studio itu terkenal berkat style khusus. Agus menyebut gaya itu dengan nama Neo School Style. Gaya itu merupakan pertemuan titik tengah antara Neo Traditional dan New School.
Karya-karyanya banyak berupa interpretasi terhadap sosok astral yang digambarkan sedemikian rupa menjadi sebuah karya yang tak lekang oleh waktu.
“Sebenarnya saya menemukan style tattoo tersebut karena memang suka dengan style Neo Traditional. Jadi saya hanya mengembangkan dengan menggabungkan antara Neo Traditional dan juga New School,” ceritanya.
Keunikan karya itu membuat nama Agus semakin dikenal di blantika tattoo Internasional. Utamanya di kawasan Asia Pasifik. Di Indonesia dia sudah langganan menjadi juri kontes tato.
Sementara di kancah internasional, dia pernah terlibat dalam event tattoo internasional di Australia. Tepatnya Australia Tattoo Expo. “Kalau sudah ada event di luar, itu harus dibarengi dengan kesiapan mental dan materi. Harus benar-benar mengatur schedule biar bisa memberikan hasil terbaik di setiap event yang kita ikuti di luar negeri,” ceritanya.
Lebih lanjut Agus mengatakan, dirinya kini juga memberikan pelatihan tato secara gratis. Ia sadar bahwa dirinya lahir dari seniman tato jalanan.
“Jadi saya share ilmu yang saya punya secara gratis. Apakah saya takut tersaingi? Kalau saya sendiri sih nggak ya, karena saya sudah yakin dengan karya saya,” ceritanya.
Sementara itu salah seorang customer loyal di Kink Tattoo Studio, Agus Sanjaya menuturkan, dirinya selalu mempercayakan setiap goresan tato di tubuhnya kepada Kink Tattoo studio.
“Rasa nyaman dan percaya yang membuat saya selalu kembali. Apalagi nama besar Kink Tattoo. Itu sebenarnya alasan utama. Karena bagi saya, tato bukan hal main-main,” tegasnya.
Terakhir, Agus Sanjaya membuat tato dengan gambar naga. Bagi dirinya, naga merupakan lambang kebijaksanaan, perlindungan, kekuasaan, serta kebebasan setelah berbagai proses.
“Ketika bisa sampai di titik ini, saya pribadi merasa diri saya sudah menjadi humble. Saya memandang kehidupan itu selalu berputar, sama seperti ekor naga yang selalu melingkar,” tuturnya.
Kini Kink Tattoo Studio bukan hanya memproduksi karya tato. Mereka juga menggagas wadah berkumpulnya para pegiat tato dalam wadah Inkdonesia Movement. Wadah itu diharapkan menjadi jembatan bagi para seniman mendapatkan relasi baru. (kontributor: I Wayan Gede Manik Sedana)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya