Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Ganesha dan Dewi Durga di Lukisan Tenung Ganapati, Begini Penjelasan Perupa I Wayan Mardika

Marsellus Nabunome Pampur • Minggu, 8 Desember 2024 | 15:21 WIB
Karya Tenung Ganapati milik I Wayan Mardika.
Karya Tenung Ganapati milik I Wayan Mardika.

radarbuleleng.id- Perupa asal banjar Keliki Kawan, Ubud, Gianyar I Wayan Mardika memamerkan salah satu karya lukisnya yang berjud Tenung Ganapati ‘Kuak Misteri Transparan’.

Lukisan dengan gaya Keliki Kawan Style ini menjadi salah satu karya yang dipamerkan di galery lukis Santrian, Sanur, Denpasar Selatan.

Menurutnya, lukisan yang dibuat di awal tahun 2024 ini mengisahkan tentang Ganesha, putra Shiwa dan Parwati. Ganesha tidak saja sebagai kepala para gana Dewa.

Ganapati, sosok itu juga dikenal sangat bijaksana, cerdas, punya kekuatan mengagumkan, bahkan juga punya ilmu tenung yang sangat ampuh. 

Diceritakan suatu ketika Shiva dengan kreasinya, menguji kesetiaan permaisurinya, Dewi Parwati.

Untuk suatu keperluan pengobatan, Dewi diutus turun ke dunia untuk mencari air susu lembu yang dipelihara petani miskin.

”Sosok Dewi turun ke dunia menjelma menjadi wanita cantik untuk mencari susu lembu sebagaimana harapan suaminya," jelasnya Kamis lalu (5/12).

Setelah mencari di seluruh penjuru dunia, Dewi Parwati tiba di suatu tempat dan bertemu dengan seorang pengembala sapi yang dekil.

Pengembala tersebut sesungguhnya adalah Shiwa sendiri yang menjelma ke dunia bergelar Sang Rare Angon.

”Rare berarti anak-anak angon pengembala, sang Rare angon itu mengajarkan hal-hal mulia, kebaikan, menunjukkan jalan kebenaran di alam semesta ini yang disimbolkan kepada anak-anak dalam konteks ini, artinya bahwa Shiwa turun ke dunia menebarkan bibit- bibit kebaikan dan kemuliaan," sambungnya.

Meski Rare Angon memiliki kelebihan namun terkait permintaan susu lembu oleh Dewi, tetap saja harus ditukar dengan persyaratan berat.

Lantaran rasa sayang Parwati terhadap Mahadewa, dengan iklas juga menyetujui permintaan sang pengembala sapi sebagai Shiva yang menyamar tersebut asalkan susu yang diminta diberikan kepadanya.

Singkat cerita, setelah mendapatkan susu, Parwati kembali ke Shivaloka, dan Shiva pun juga sudah sampai di sana bahkan menyambut kedatangan permaisurinya dengan penuh senyum.

Shiwa bertanya pada Dewi, terkait bagaimana cara untuk mendapatkan air susu lembu tersebut. Dewi sangat gugup dan tak mampu menjawab.

Dia juga tidak menyadari bahwa sang Rare Angon adalah Shiwa yang turun ke dunia.

Karena Dewi Parwati tidak bisa menjawab, kemudian dipanggilah Dewa Ganesha untuk menerawang atau melihat apa yang terjadi dengan kekuatan tenungnya.

Di sana, Dewa Ganesha melihat sesuatu yang janggal dan ‘memalukan’ terjadi justru menimpa ibunya sendiri.

Meski merasa sangat berat menyampaikan kepada ayahnya, Ganesha tetap mengungkapkan kebenaran hasil dari tenungnya tersebut.

Mendengar hal tersebut, Dewi Parwati sangat marah, kemudian berubah wujud sangat menyeramkan menjadi Dewi Durga.

Dengan spontan Durga melampiaskan kemarahannya, membakar lontar tenung tersebut melalui kekuatan Maha Saktinya. 

Tenung pun terbakar, asap dan apinya menyebar kesegala arah laut, bumi, angkasa bahkan seluruh kosmik.

Vibrasi dan radiasi pengetahuan tanpa batas itu juga terserap beberapa orang suci pada waktu itu.

Siapapun yang dihinggapi energi tersebut, diyakini sebagai orang terpilih dan sampai sekarang energi tenung itu masih tetap lestari. 

Ilmu terawang itu merupakan suatu hasil prediksi sangat dasyat, karena mampu menguak tabir misteri rahasia masa lalu dan juga masa depan, dengan sangat transparan.

”Nah pesan dari cerita lukisan ini, kita harus cerdas dan bijak melihat substansi sesuatu, bahwa sejatinya ada karunia atau berkah, yang sangat besar di balik peristiwa, kisah buruk sekalipun," tandasnya.***

 

Editor : Donny Tabelak
#lukisan #Ubud Gianyar #Dewi Parwati #misteri #Shiwa #ganesha #perupa