Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

AJI Denpasar Tuntut Aksi Nyata untuk Akhiri Kekerasan Berbasis Gender di Bali

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Senin, 23 Desember 2024 | 00:21 WIB

 

SUARAKAN KESETARAAN: Aksi damai Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, menyuarakan kesetaraan gender.
SUARAKAN KESETARAAN: Aksi damai Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, menyuarakan kesetaraan gender.

RadarBuleleng.id – Belasan jurnalis dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar bersama komunitas jurnalis Bali menggelar kampanye di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Lapangan Renon, Denpasar, Minggu (22/12/2024). 

Aksi itu dilakukan untuk memperingati Hari Pergerakan Perempuan yang jatuh pada tanggal 22 Desember, sekaligus mendukung rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember 2024.

Meski diguyur hujan, para peserta tetap semangat membawa spanduk, poster, membacakan puisi, serta menyampaikan orasi terkait isu kekerasan terhadap perempuan. 

Mereka menyoroti berbagai masalah, mulai dari trauma korban pelecehan seksual di lingkungan keluarga dan kerja, pentingnya edukasi kesehatan reproduksi, hingga perlunya sanksi sosial yang tegas bagi pelaku kekerasan.

Ketua AJI Denpasar, Ayu Sulistyowati, menekankan pentingnya kampanye ini sebagai upaya edukasi sekaligus membuka ruang aman bagi perempuan. 

“Ruang aman bagi perempuan masih sangat terbatas. Kekerasan fisik, psikis, dan verbal kerap terjadi, baik di rumah, jalan raya, maupun tempat kerja,” ungkap Ayu.

Koordinator aksi, Ni Kadek Novi Febriani, menegaskan bahwa Hari Pergerakan Perempuan seharusnya dimaknai lebih luas dibanding sekadar perayaan domestik seperti Hari Ibu. 

“Hari ini bukan sekadar tentang peran perempuan dalam rumah tangga, tetapi juga perjuangan perempuan untuk pendidikan, keadilan gender, dan melawan ketimpangan sosial,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, penyair Pranita Dewi membacakan puisinya berjudul Kami Tidak Tinggal Diam, yang menyerukan perlawanan terhadap kekerasan dalam berbagai bentuk. 

Jurnalis sekaligus aktivis, I Wayan Widyantara, turut membacakan puisi Perempuan Penjaga Api karya Nurul Sulistyo.

Selain itu, AJI Denpasar menyampaikan tujuh poin sikap, termasuk ajakan untuk memperkuat solidaritas melawan kekerasan berbasis gender, mendorong pemerintah dan lembaga adat untuk menegakkan keadilan bagi korban, serta memastikan perlindungan dan pemulihan bagi penyintas kekerasan.

Mereka juga menekankan pentingnya media dalam menciptakan ruang aman dengan menyajikan pemberitaan yang ramah gender dan inklusif. 

“Ketimpangan gender dan kekerasan terhadap perempuan ibarat fenomena gunung es—banyak korban yang enggan melapor karena menganggap hal itu sebagai aib,” tambah Ayu.

Kampanye ini menjadi bagian dari upaya kolektif AJI Denpasar untuk mewujudkan kesetaraan gender di berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, dan moral. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kekerasan #gender #denpasar