RadarBuleleng.id - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq berencana menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang ada di Desa Pedungan, Denpasar.
Kementerian akan menutup TPA terbesar di Bali tersebut, karena pengelolaan tidak optimal. TPA masih dikelola dengan mekanisme open dumping.
Warga pun berharap bila wacana itu benar-benar direalisasikan. Sebab wacana penutupan TPA Suwung sudah disampaikan berkali-kali, tapi tidak pernah terealisasi.
Kepala Lingkungan Banjar Pesanggaran, Sucipta berharap, penanganan gunungan sampah di TPA Suwung bukan hanya sekadar wacana. Tapi harus direalisasikan.
Ia mengaku sudah berkali-kali mendengar wacana penutupan TPA Suwung. Namun rencana itu selalu gagal.
”Kami dari 1984 sudah bergaul dengan sampah (karena TPA Suwung). Dari teknik dan teknologi pernah dilakukan,” ujarnya.
Baca Juga: Jelang Perhelatan WWF, TPA Suwung Justru Kebakaran Lagi
Ia memandang, cara menyelesaikan sampah di TPA Suwung adalah dengan menyiapkan insinerator.
“Kami tidak pernah menolak insinerator, kalau bagus seperti Singapura pembuangan tidak terlalu pekat,”beber Sucipta didampingi Kelian Adat Banjar Pesanggaran, I Ketut Agus Pujawan.
Menurutnya, keberadaan TPA Suwung sudah berdampak serius. Sebab air di sekitar TPA sudah tercemar dan pohon mangrove juga berdampak.
”Sudah tidak bisa pakai air sumur. Banyak air lendi. Mangrove mati. Kami diimbau memilah sampah. Sudah dipilah, tapi dicampur lagi waktu diangkut,” terang Kelian Adat Pesanggaran,
Sementara itu, Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya menyampaikan Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan berbagai upaya penanganan sampah. Mulai dari pembangunan TPS3R, TPST, pemilahan sampah berbasis sumber, hingga teknologi modern.
Sayangnya upaya tersebut belum mampu sepenuhnya menyelesaikan permasalahan sampah di Bali. Padahal TPA Regional Sarbagita Suwung telah mengalami kelebihan kapasitas.
Menurutnya, untuk menjaga kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan pariwisata di Bali, diperlukan pengelolaan sampah dengan teknologi modern sebagai pengganti penanganan sampah model TPA atau control landfill.
"Kami terus berupaya meminta dukungan dari pusat. Jika diizinkan, Bali sudah saatnya memiliki Waste to Energy," kata Mahendra Jaya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya