Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Terungkap, Ketimpangan Ekonomi di Bali Masih Terjadi, hanya Bertumpu di Bali Selatan

Marsellus Nabunome Pampur • Kamis, 27 Februari 2025 | 18:05 WIB

 

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Butet Linda H. Panjaitan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Butet Linda H. Panjaitan.

DENPASAR, Radarbuleleng.jawapos.com- Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Butet Linda H. Panjaitan menyampaikan bahwa pada tahun 2025 ekonomi Bali tetap solid.

Selain itu ekonomi Bali diperkirakan tumbuh di kisaran 5 hingga 5,8 persen secara year on year, lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan nasional 4,7 persen hingg 5,5 persen year on year.

Namun, pertumbuhan ekonomi ini masih dihadapkan dengan sejumlah tantangan.

Salah satu tantangan seriusnya yakni adanya ketimpangan ekonomi antara wilayah Sarbagita seperti Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan yang berbasis pariwisata dan non-Sarbagita yang berbasis non-pariwisata masih menjadi tantangan.

Hal itu disampaikannya di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, pada kegiatan forum BALINOMICS, Selasa lalu (25/2).

Dia menjelaskan, bahwa saat ini, 65 persen perekonomian Bali terkonsentrasi di Bali Selatan.

”Sementara perekonomian wilayah lainnya belum berkembang secara merata. Oleh karena itu, diperlukan strategi investasi yang lebih berkelanjutan agar pertumbuhan dapat lebih merata," katanya dalam kesempatan itu.

Selain itu, ketergantungan terhadap sektor pariwisata, yang berkontribusi 38 persen terhadap ekonomi Bali, menjadikan Bali rentan terhadap guncangan eksternal.

Menurut dia, diversifikasi ekonomi menjadi kunci. ”Pengembangan sektor agrowisata, agroindustri, dan industri kreatif di Bali Utara dan daerah lainnya akan menjadi langkah strategis untuk menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru," sambungnya.

Sementara itu, di tengah akseptansi digital yang luas di Provinsi Bali, masih terdapat gap antara akseptansi dan literasi digitalisasi sistem pembayaran.

Masih terdapat pelaku usaha dan masyarakat yang belum sepenuhnya menjadi konsumen yang berdaya di era digital, yang memahami langkah mitigasi risiko transaksi digital. 

Oleh karena itu, Bank Indonesia secara konsisten melakukan edukasi dalam rangka penguatan keamanan dan pelindungan konsumen.

”Untuk menjawab tantangan ini, Bank Indonesia merumuskan tiga strategi utama, yaitu mendorong sektor padat karya, memperluas akses pembiayaan, dan mempercepat digitalisasi," tandas Butet.***

Editor : Donny Tabelak
#provinsi bali #bank indonesia #sarbagita #pariwisata #Bali selatan #ketimpangan ekonomi #bali utara