Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Duh! Dampak Efisiensi, Pembangunan Jembatan Tertunda. Belasan Keluarga di Bali Terancam Terisolasi Lebih Lama

Muhammad Basir • Senin, 7 April 2025 | 17:19 WIB

 

JEMBATAN AMBRUK: Jembatan darurat di Banjar Sekarkejula Kelod, Jembrana, ambruk akibat banjir. Perbaikan jembatan  tidak bisa dilakukan gara-gara efisiensi.
JEMBATAN AMBRUK: Jembatan darurat di Banjar Sekarkejula Kelod, Jembrana, ambruk akibat banjir. Perbaikan jembatan tidak bisa dilakukan gara-gara efisiensi.

RadarBuleleng.id - Harapan warga Banjar Sekarkejula Kelod, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, untuk memiliki jembatan permanen kembali pupus. 

Jembatan darurat berbahan bambu yang dibangun secara swadaya pasca banjir bandang 2022 lalu, kini sudah ambruk. 

Sementara rencana pembangunan jembatan permanen tahun ini dibatalkan akibat pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat.

Kelian Banjar Sekarkejula Kelod, I Nyoman Supardi mengatakan, kondisi jembatan sudah lama memprihatinkan. Selain termakan usia, jembatan ini juga kerap rusak akibat terjangan banjir. 

"Sudah sering diperbaiki warga, tapi kali ini benar-benar roboh. Tidak bisa dipakai sama sekali," kata Supardi, kemarin (6/4/2025).

Akibat ambruknya jembatan tersebut, sebanyak 15 kepala keluarga (KK) sempat terisolasi ketika debit air sungai naik. Anak-anak pun terpaksa absen sekolah karena tidak bisa menyeberang. 

"Kalau hujan deras, air sungai naik, dan kami tidak bisa ke mana-mana. Anak-anak jadi tidak bisa sekolah," keluh Supardi.

Padahal, menurut informasi yang sempat diterimanya, pembangunan jembatan permanen sempat masuk dalam rencana tahun 2025. 

Sayangnya, anggaran senilai Rp 3,1 miliar yang telah dialokasikan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) Specific Grant (SG) batal dicairkan karena kebijakan efisiensi anggaran.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPRPKP Jembrana, Gede Sony Indrawan, membenarkan hal tersebut. 

Ia menjelaskan bahwa pembangunan jembatan pangkung Sekarkejula sejatinya sudah masuk dalam perencanaan. Namun akibat pemotongan anggaran dari pemerintah pusat, proyek tersebut ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. 

"Saat ini kami masih menunggu arahan pimpinan untuk mencari alternatif pendanaan lain," jelasnya.

Sebagai informasi, pemotongan dana transfer pusat ke Kabupaten Jembrana tahun ini mencapai Rp 28 miliar. 

Dari total tersebut, Rp 21,1 miliar merupakan pemangkasan DAU Specific Grant, dan Rp 7,8 miliar berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik. 

Imbasnya, sejumlah proyek infrastruktur termasuk perbaikan jalan dan pembangunan jembatan ikut tertunda.

Kini, warga Sekarkejula hanya bisa berharap agar ada solusi cepat dari pemerintah agar akses vital mereka bisa kembali normal dan anak-anak bisa bersekolah tanpa hambatan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #warga #sungai #jembatan #jembrana #banjir bandang #bambu #kepala keluarga