TABANAN, Radarbuleleng.jawapos.com- Hampir setahun Museum Subak Tabanan atau Water Museum Mandala Mathika dibangun megah.
Tapi sayangnya, Museum Subak yang pernah menjadi lokasi kegiatan Word Water Forum (WWF) pada tahun 2024 lalu, sampai bulan April 2025 ini belum juga beroperasi alias dibuka untuk umum.
Padahal masyarakat dan khususnya kalangan pelajar ingin berkunjung melihat hal baru yang ada di Museum Subak.
Pantauan di Lapangan, Senin kemarin (14/3), Museum Subak yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto Nomor. 5B Banjar Dinas Sanggulan Desa, Desa Banjar Anyar, Kediri Tabanan masih dijaga ketat oleh petugas keamanan (Satpam).
Museum Subak yang kental dengan arsitektur Bali tampak sepi, sementara para pekerja kebersihan setiap harinya melaksanakan pembersihan dan perawatan di Museum Subak seluas 6,28 hektar.
Kepala UPTD Museum Subak Dinas Kebudayaan (DIsbud) Tabanan, Si Putu Eka Santi mengatakan prosesnya Museum Subak Tabanan atau Museum Mandala Mathika belum diserahterima.
Pengelolaan dan pemeliharaan masih menjadi kewenangan dari Pemerintah Pusat dalam Kementerian PUPR.
"Belum ada pembicaraan lebih lanjut, apakah sudah selesai atau tidak saya kurang tahu," ungkapnya.
Terkait apakah sudah ada diusulkan agar pengelolaan Museum Subak dalam dikelola itu menjadi ranah bagian pemerintah daerah. Pihaknya pun tidak mengetahui.
Sebenarnya pengelolaan dari Museum Subak tersebut sangat berharap dikelola oleh pemerintah daerah. Sehingga bisa dikunjungi masyarakat dan wisatawan.
"Tapi sampai sekarang Museum Subak masih kewenangan dari Pemerintah Pusat," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Bakeuda I Wayan Kotio mengatakan perihal Museum Subak Tabanan sampai saat ini belum ada (penyerahan). Masih berstatus milik pemerintah pusat.
"Pembangunan museum itu kan baru selesai, termasuk masa pemeliharaannya. Saya harus cek dulu," kata Kotio, Selasa kemarin.
Kotio menyebut proses penyerahan hibah Museum Subak Tabanan sama seperti Dermaga Beratan Bedugul Baturiti.
Proses itu berada di pemerintah pusat, kemudian dicatat oleh pemerintah pusat, baru kemudian dihibahkan ke pemerintah daerah.
"Banyak item (pencatatannya). Ada nilainya juga. Mungkin dalam proses. Tapi untuk pastinya harus buka dokumen dulu. Kami harus koordinasi juga dengan Dinas Kebudayaan soal Museum Subak Tabanan," pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak