Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tak Mau Menganggur di Usia Senja, Kisah Pak Made Bikin Netizen Terharu

Marsellus Pampur • Kamis, 24 April 2025 | 13:59 WIB

 

MENOLAK TUA: I Made Ngeplin alias Pak Made, salah seorang waiter di Warung Saro, Denpasar. Sosoknya viral di media sosial karena keramahan dan kehangatannya.
MENOLAK TUA: I Made Ngeplin alias Pak Made, salah seorang waiter di Warung Saro, Denpasar. Sosoknya viral di media sosial karena keramahan dan kehangatannya.

RadarBuleleng.id – Di tengah hiruk pikuk Warung Saro di Jalan Tandakan, Sanur, Denpasar Selatan, sosok I Made Ngeplin terlihat sibuk melayani pelanggan dengan senyum ramah. 

Tangannya cekatan mencatat pesanan, sesekali menyapa pengunjung yang datang. Tak banyak yang menyangka, waiter senior ini telah menginjak usia 71 tahun.

Pak Made, begitu ia akrab disapa, adalah karyawan tertua di restoran yang menyajikan beragam kuliner Asia seperti masakan Thailand, Vietnam, Jepang, hingga sajian khas Indonesia dan Bali. 

Ia mulai bekerja di Warung Saro sejak sebelum pandemi Covid-19. Saat pandemi melanda dan usaha sempat tutup, Pak Made pun sempat istirahat. Namun, setelah restoran kembali buka, ia langsung dipanggil lagi untuk bergabung.

"Pas pandemi sempat berhenti. Tapi begitu buka lagi, saya diajak kerja lagi di sini," cerita Pak Made saat ditemui belum lama ini.

Sosok Pak Made sempat viral di berbagai platform media sosial. Utamanya TikTok. Sosoknya yang enerjik, serta pelayanan yang ramah, membuat para netizen menjadi terharu.

Sebelum bergabung dengan Warung Saro, Pak Made memiliki rekam jejak panjang di dunia pariwisata. Khususnya sektor restoran. 

Ia pernah bekerja di Beach Market Sanur selama 35 tahun, hingga akhirnya pensiun pada 2009. Pensiun tak membuatnya berhenti aktif. Ia sempat menjadi petugas ronda malam di Banjar Taman Sari, tempat tinggalnya.

Melihat semangat Pak Made yang tak luntur meski usia tak muda lagi, pemilik Warung Saro—yang juga tetangga satu banjar—menawarinya pekerjaan. 

“Karena tahu saya pernah kerja di restoran, saya diajak bantu-bantu di sini. Saya bagian depan, jadi waiter, sekalian bersih-bersih juga,” ungkapnya.

Saat ditanya mengapa masih memilih bekerja di usia senja, Pak Made menjawab lugas, “Kalau cuma di rumah, saya malah gampang sakit. Tapi kalau kerja, saya jadi semangat. Anak saya dua, semua perempuan, sudah menikah dan tinggal di Tabanan serta Sanur,” ceritanya.

Manager Warung Saro, Andika Mahaputra mengatakan, pihaknya memang tidak membatasi usia atau pendidikan dalam merekrut karyawan. 

Bahkan, salah satu staf dapur mereka, Ni Nyoman Kartini, juga sudah berusia 60 tahun. “Yang kami butuhkan cuma satu, niat bekerja,” ujarnya.

Menurut Andika, dulu mereka sempat menerapkan batas usia saat membuka lowongan kerja. Namun, hasilnya tak sesuai harapan. Banyak pelamar muda yang kurang memiliki etos kerja. 

“Sekarang banyak yang punya skill, tapi semangatnya kurang. Kadang hari ini datang, besoknya sudah tak muncul lagi. Makanya kami ubah pendekatan. Soal hospitality bisa kami latih,” terangnya.

Kehadiran sosok seperti Pak Made justru mendapat respons positif dari pelanggan. Selain memberikan pelayanan yang ramah dan tulus, kehadiran staf lansia juga menambah kehangatan suasana restoran.

“Konsep kami memang ingin membuat pengunjung merasa seperti di rumah sendiri. Bangunannya khas Bali, makanannya juga handmade dari bahan lokal. Jadi wajar kalau proses penyajiannya agak lama, karena semua dibuat dengan hati,” tutup Andika. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Made #bali #netizen #sanur #pariwisata #denpasar #tiktok #pandemi #warung #asia #waiter #restoran #media sosial