Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Gaji Tukang Sapu Tak Cukup, Pegawai DLH Gianyar Ini Nyambi Jualan Es Keliling

Ida Bagus Indra Prasetia • Sabtu, 3 Mei 2025 | 20:05 WIB
Made Mardika saat meracik es roti buatannya di halaman Radio Gelora Gianyar pada Rabu (30/4) lalu.
Made Mardika saat meracik es roti buatannya di halaman Radio Gelora Gianyar pada Rabu (30/4) lalu.

Radarbuleleng.jawapos.com- Made Mardika kesehariannya merupakan tukang sapu jalan di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gianyar.

Namun,  gaji minim dan biaya hidup yang serba mahal membuatnya tidak bisa mengandalkan satu pekerjaan saja. Bagaimana perjuangannya?

Suara terompet dari penjual es keliling terdengar di Jalan Manik Gianyar. Di halaman depan Radio Gelora, penjual es yang bernama Made Mardika itu langsung memarkir sepeda motornya.

”Mau es?,” tanya Mardika kepada semua orang yang ditemuinya pada Rabu lalu (30/4).

Setelan yang dia kenakannya adat madya. Ia mengenakan udeng, baju kaos, saput hingga kamen.

Bahkan, ia mengenakan sepatu. Di gerobak dari aluminium, terdapat tulisan dua tulisan. Es Roti Krama Bali, disisi kiri. Tulisan lainnya, Zaman Now.

Saat ada pembeli yang berminat membeli, ia langsung menyediakan roti lapis. Kemudian dioleskan selai merah.

Di atas roti itu langsung ditumpuk es krim buatannya. ”Ini harganya Rp 5 ribu,” jelasnya.

Es buatannya ini dijajakan ke kantor-kantor pemerintahan hingga ke kantor kepolisian. ”Dimana ada ramai, ke sana saya,” terangnya.

Ia mengaku, berjualan es sejak beberapa tahun lalu untuk menambah kebutuhan dapur. ”Saya kalau pagi jadi tukang sapu. Saya pegawai DLH,” ungkapnya.

Ia terang-terangan mengungkap gajinya sebulan dari tukang sapu sebesar Rp 1,5 juta. ”Kalau andalkan gaji segitu, tidak cukup. Kebutuhan banyak,” ujarnya. 

Akhirnya ia pun putar otak untuk memperoleh penghasilan tambahan. ”Setelah nyapu pagi, siang saya jualan es keliling,” ungkapnya.

Diakui, dari berjualan es, ada tambahan penghasilan untuk keperluan rumah tangga.

”Sehari tergantung. Rata-rata 50 roti habis,” terang pria asal Banjar Roban, Kelurahan Bitera, Kecamatan Gianyar tersebut.

Mardika menerangkan, es dibuat sendiri di rumahnya dengan metode yang dipelajari secara otodidak. Olahan kemudian didiamkan menunggu menjadi es. 

Sembari menunggu olahannya menjadi es, Mardika di pagi hari bekerja sebagai tukang sapu. ”Saya kerja paruh waktu. Kerja sebentar. Setelah itu pulang,” ujarnya. 

Sampai di rumah, Mardika kemudian menyiapkan bahan seperti roti hingga selesai. Es kemudian dimasukkan ke dalam baskom. 

Setelah semuanya siap, Mardika pun jualan keliling menanggapi sepeda motor Honda Karisma. 

Disamping itu, banyak waktu lengang di siang hari hingga sore. ”Daripada tidak ngapa-ngapain, saya keliling jualan es,” ungkapnya. 

Dari berjualan es ini, ia pun banyak mengenal para pegawai di lingkup pemerintahan dan kepolisian.

”Lumayan banyak yang berlangganan. Hasilnya untuk kebutuhan di rumah. Terimakasih,” terangnya. 

Di bagian belakang motornya, juga digantung tong sampah. ”Plastik bungkusnya, buang disini,” ujarnya sembari menunjukkan tong sampah. 

Sementara itu, salah satu pembeli es, Radit asal Tegallalang mengaku senang bisa membeli es dari Mardika.

Dari sisi harga terjangkau dan masuk akal, tidak kemahalan. ”Rasanya enak. Es roti ini, enak dan bikin kenyang. Untuk ganjel pas lagi lapar,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#penjual es #dlh gianyar #tukang sapu