Radarbuleleng.jawapos.com- Pulau Bali sempat dilanda kejadian mati listrik pada Jumat lalu (2/5) dan Senin kemarin (5/5).
Kondisi ini pun membawa beragam dampak, khususnya bagi pulau yang dikenal dengan pariwisatanya ini.
Ketua PHRI Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan, karena kejadian mati listrik selama empat jam kemarin, usahanya harus mengeluarkan cost atau biaya lebih untuk generator set (genset).
"Empat jam itu saya habis 100 liter (solar, red). Itu tambahan biaya. Kalau yang gak punya (genset seperti, red), restoran dan hotel yang kecil-kecil, (dampaknya, red) satu, kenyamanan pasti," ujarnya, kemarin (5/5).
Ada juga hotel kecil yang harus merugi karena tamu yang memilih untuk pindah, merasa tidak nyaman, dan komplain. Ditambah suhu di Bali yang saat ini menyentuh angka 30 derajat.
Kedua, padamnya listrik juga dapat merusak material dan alat-alat di industri perhotelan maupun restoran.
Seperti material food and baverage yang membusuk dan harus dibuang, hingga rusaknya power supply alat-alat elektronik yang tentu menimbulkan kerugian.
"Image perusahaan juga kena, dibilang tidak profesional kami, seperti itulah. Image pariwisata itu kena, (seperti, red) Bali kok begini. Sudah maju pariwisatanya kok pembangkit (listriknya, red) on off seperti itu," kata Sidharta.
Oleh karenanya, mati listrik tak hanya merugikan bagi yang memiliki genset. Usaha yang tidak memiliki genset juga merugi karena harus menanggung biaya tambahan.
Di sisi lain, mereka juga tak mendapatkan ganti rugi atau kompensasi dengan adanya kejadian ini. Padahal setiap ada telat pembayaran listrik akan dikenakan denda.
"Jadi ke depannya Bali ini harus mandiri listrik. Bukan hanya tergantung dari Sanggaran, Jawa, tenaga fosil. Sedangkan negara lain sudah menggunakan mungkin turbin, tenaga surya, tenaga angin," ungkapnya.
Kemudian ke depannya agar ada alternatif atau back up plan dari pemerintah daerah maupun pihak pembangkit listrik terkait.
Mengingat juga saat ini pertumbuhan di Bali terus meningkat dan populasi bertambah.
Lebih lanjut, PHRI Denpasar pun terus membicarakan hal ini dan memberikan masukan melalui Bali Tourism and Boards maupun PHRI Bali dan Badan Pimpinan Cabang (BPC) PHRI lainnya.
"Intinya Bali harus mempunyai cadangan, back up plan, ya harus mandiri listrik. Tidak bisa kita begini terus. Kasihan yang nggak punya genset dan genset itu mahal, belum lagi operasionalnya," terangnya.***
Editor : Donny Tabelak