Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dampak Blackout, Akademisi Unud Ingatkan Energi Bersih Bukan Sekadar Wacana

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 7 Mei 2025 | 23:09 WIB

 

Ilustrasi meteran listrik
Ilustrasi meteran listrik

RadarBuleleng.id - Pemadaman listrik massal yang melanda hampir seluruh wilayah Bali pada Jumat (2/5/2025) memicu wacana Bali mandiri energi.

Banyak pihak menyerukan agar Bali tidak lagi bergantung pada pasokan dari Jawa, terutama dari PLTU Paiton.

Guru Besar Teknik Mesin Universitas Udayana (Unud), Prof. IGB Wijaya Kusuma mengatakan, Bali sebenarnya sudah mandiri dalam hal pasokan energi.

“Bali saat ini sudah ditopang oleh beberapa pembangkit lokal seperti PLTU Celukan Bawang, PLTGU Pemaron, PLTG Pesanggaran, dan PLTG Gilimanuk. Ditambah lagi dengan pasokan dari PLTU Paiton. Jadi secara elektrifikasi, Bali sudah 100 persen,” kata Prof. Wijaya.

Meski begitu, pasokan harus benar-benar stabil. Agar tidak ada lagi peristiwa terjadi pemadaman besar. Terlebih, Bali tengah didorong sebagai pionir dalam transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).

Menurut Prof. Wijaya, langkah awal menuju EBT harus dimulai dengan investigasi terhadap PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang sudah terpasang. 

Setelah itu, dibutuhkan kajian kelayakan yang komprehensif untuk menilai potensi dan tantangan pengembangan energi bersih di Bali.

“Kalau EBT itu menguntungkan secara ekonomi, pasti sudah digarap masif oleh pengusaha. Tapi faktanya masih banyak hambatan, salah satunya soal ketergantungan pada baterai,” ujarnya.

Menurutnya, kajian harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti potensi energi surya, angin, dan biomassa, kondisi jaringan listrik, kapasitas pembangkit cadangan (peaker), hingga aspek sosial budaya dan kebijakan lokal.

“Jangan cuma wacana. Kalau serius ingin beralih ke EBT, pemerintah harus buat kajian komprehensif dari sisi hukum, ekonomi, sosial, budaya, dan teknis. Hasilnya harus dipublikasikan secara terbuka,” tegasnya.

Prof. Wijaya juga menyinggung kasus proyek geothermal Bedugul yang sempat ditolak oleh Gubernur dan DPRD Bali. Meski di saat bersamaan ada kekhawatiran Bali bakal gelap tanpa pasokan listrik tambahan. Menurutnya, inilah saatnya energi diperlakukan sebagai isu nasional, bukan sekadar lokal.

“Kita ini bagian dari NKRI. Biarkan pengelolaan listrik ditangani oleh badan yang sudah ditunjuk negara, tapi Bali juga harus punya peran dalam memastikan ketahanan energinya sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, beberapa kelompok sudah menyatakan siap mendukung Bali Go Green, bahkan telah aktif menjelang perhelatan G20. Namun hingga kini belum terlihat perkembangan berarti.

Menurut Wijaya, blackout 2 Mei juga memberikan pelajaran penting. Banyak SPBU lumpuh karena tak dilengkapi genset. Sinyal telepon melemah karena BTS kekurangan daya. ATM pun ikut tak berfungsi karena baterai cadangan tak mencukupi.

“Ini membuktikan sistem smart grid Bali belum berjalan optimal. Kalau smart grid sudah sesuai rencana, PLTS yang terpasang bisa langsung berkontribusi saat listrik padam,” papar Prof. Wijaya.

Meski begitu, ia tetap mengapresiasi PLN dan Indonesia Power yang sigap mengaktifkan pembangkit cadangan (peaker) sehingga blackout tidak berlangsung lama.

“Bali harus terus bergerak ke arah energi mandiri, tapi jangan hanya dijadikan jargon. Saatnya serius dan melibatkan semua pihak,” tutupnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #baterai #plts #bersih #listrik #PLTU Paiton #pltu #universitas udayana #jawa