Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Terungkap! Angka Stroke Tinggi di Bali, Paling Mematikan setelah Penyakit Jantung

Marsellus Nabunome Pampur • Sabtu, 10 Mei 2025 | 02:05 WIB
Direktur Utama (Dirut) RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah dr. I Wayan Sudana, M.Kes. (tengah) bersama Kepala Dinkes Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom (kiri) di Jimbaran, Kuta Selatan.
Direktur Utama (Dirut) RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah dr. I Wayan Sudana, M.Kes. (tengah) bersama Kepala Dinkes Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom (kiri) di Jimbaran, Kuta Selatan.
 
Radarbuleleng.jawapos.com- Angka penyakit stroke di Bali cukup tinggi. Namun, sayangnya tidak semua rumah sakit yang ada di Bali memiliki akses untuk melayani pasien stroke masih sangat terbatas.
 
Berangkat dari hal itu, RS Ngoerah sebagai RS pengampu regional layanan stroke, mengambil inisiatif untuk membangun sistem penanganan stroke komprehensif di Provinsi Bali.
 
Dalam pertemuan Bali Stroke Care di Jimbaran, Kuta Selatan, Kamis (8/5) kemarin, menghadirkan sejumlah perwakilan rumah sakit dari 9 kabupaten kota di Bali.
 
Selain itu sejumlah kepala dinas kesehatan dari 9 kabupaten kota yang ada turut mendandatangani nota kesepakatan bersama penanganan penyakit stroke.
 
Direktur Utama (Dirut) RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah dr. I Wayan Sudana, M.Kes. menjelaskan sistem ini sangat perlu dibangun di Bali.
 
Hal itu dikarenakan bahwa penanganan stroke di setiap rumah sakit yang ada di Bali belum terpadu atau belum terintegrasi.
 
”Ini kita akan buat jadi sebuah sistem. Kita butuh komitmen bersama dengan smua stakeholder terkait, terutama rumah sakit, Dinas terkait, organisasi terkait dan gubernur," katanya kepada media dalam kegiatan itu.
 
Dia menjelaskan, sistem ini perlu dibangun, mengingat penyakit stroke merupakan salah salah satu penyakit mematikan di Indonesia, dan Bali khususnya. Bahkan dari tahun ke tahun, jumlah penderita stroke naik signifikan.
 
Setiap tiga detik, lanjutnya, ada satu orang yang terkena stroke. Pembuatan sistem terintegrasi ini sangat perlu dilakukan karena sebenarnya stroke bisa dicegah.
 
”Kenapa? Karena struk ini sebenarnya sangat tergantung dari kecepatan penanganan dan ketepatan. Dia punya namanya waktu emas atau golden periode. Jadi, empat setengah jam kalau gejala itu terjadi, kita bisa tangani, itu hasilnya akan baik. Ketika itu lewat, ini yang akan jadi masalah. Tingkat kematian yang tinggi, kalaupun selamat, sembuh dengan kecacatan," bebernya.
 
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinkes Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom menjelaskan, di Bali sendiri stroke merupakan penyakit nomor dua paling mematikan setelah penyakit jantung.
 
Dengan kondisi ini, pihaknya pun sangat mendukung dibangunnya sistem penanganan stroke yang terintegrasi ini.
 
”Tujuan utamanya untuk mengurangi angka kematian karena struk di Bali," ujarnya.
 
Saat ditanya terkait kendala apa yang biasa terjadi di Bali dalam penanganan pasien stroke, Anom mengatakan bahwa selama ini salah satu kendalanya adalah akses rumah sakit yang menangani pasien stroke.
 
" Keberadaan rumah sakit yang betul-betul bisa melayani struk masih terbatas. Sekarang sudah ada bantuan dari pemerintah pusat dan sudah dilantik juga dokter spesilisnya. Dokter spesialis struk di Bali sudah siap semua. Alat-alat juga sudah siap," pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak
#dinas kesehatan #stroke #RS Ngoerah Denpasar #jantung