RadarBuleleng.id - Viral di media sosial, pasangan wisatawan mengajak driver mereka berwisata di beberapa objek wisata.
Momen membahagiakan itu dibagikan akun instagram @hashtagmonika pada Kamis (8/5/2025) lalu.
Dalam video yang dibagikan di media sosial, pemilik akun memperlihatkan ketika mereka mengajak sang driver melancong ke beberapa lokasi.
Diantaranya ke objek wisata Tirta Gangga Karangasem, makan siang masakan tradisional Bali, menikmati terasering, hingga flying fox di kawasan Ubud.
Ada juga momen ketika sang driver berkunjung ke Monkey Forest, mencicipi kopi tradisional, serta berkunjung ke air terjun.
Momen-momen tersebut dibagikan dalam sebuah video berdurasi 58 detik. Hal itu mengundang rasa haru dari warganet alias netizen.
“POV: you take your bali driver everywhere with you instead of leaving him in the car. He took us best places to eat traditional balinese food. he said he never zip lining, so we take him. he said he has never been monkey forest, and has never been local coffee tasting. he said no one ever did this for him. be kind. we’re going to miss you Gede!” tulis si pemilik akun.
Jika diterjemahkan, penjelasan itu bermakna: “Anda membawa serta sopir Bali Anda ke mana-mana, alih-alih meninggalkannya di mobil. Ia membawa kami ke tempat-tempat terbaik untuk makan makanan tradisional Bali. Ia berkata ia tidak pernah bermain flying fox, jadi kami yang membawanya. Ia berkata tidak pernah ke hutan monyet, dan tidak pernah mencicipi kopi lokal. Ia berkata tidak ada yang pernah melakukan ini untuknya. Bersikaplah baik. Kami akan merindukanmu, Gede!” katanya.
Pemilik akun juga menuliskan caption. “A kind reminder while exploring Bali: If you’re traveling with a local driver, consider inviting them to join you at attractions or for a meal. Many haven’t had the opportunity to experience the places they help us discover every day. What may be affordable for us—like an entry ticket or a meal—can be quite expensive for locals. Including them in the experience is a small gesture that can make a big difference. Sharing the moment costs so little, but it can mean the world,” tulisnya.
Jika diterjemahkan: “Pengingat saat menjelajahi Bali: jika anda bepergian dengan pengemudi lokal, pertimbangkan untuk mengajak mereka bergabung dengan anda di tempat wisata atau makan. Banyak yang belum berkesempatan untuk merasakan tempat-tempat yang mereka bantu kita jelajahi setiap hari. Apa yang mungkin terjangkau bagi kita—seperti tiket masuk atau makan—bisa jadi sangat mahal bagi penduduk setempat. Melibatkan mereka dalam pengalaman ini adalah tindakan kecil yang dapat membuat perbedaan besar. Berbagi momen memang tidak membutuhkan banyak biaya, tapi bisa sangat berarti,” kata pemilik akun.
Adapun driver yang diajak melancong oleh wisatawan tersebut adalah Gede Dalut, seorang driver yang berada di Ubud.
Aksi itu mendapat banyak komentar dari berbagai pengguna akun media sosial. Khususnya para Warga Negara Asing (WNA).
“I’ve tried many times. Only one time would they come with me. I asked some locals who speak English well, and they said it’s uncomfortable for them. But it looks like your driver had the best time,” tulis pemilik akun @cfharmainemitchell.
Jika diterjemahkan, komentar itu berarti: “Saya sudah mencobanya berkali-kali. Hanya satu kali mereka mau menemani saya. Saya bertanya kepada beberapa penduduk setempat yang berbicara bahasa Inggris dengan baik, dan mereka mengatakan itu tidak nyaman bagi mereka. Namun, tampaknya pengemudi Anda menikmati waktu terbaiknya,” tulisnya.
Komentar itu mendapat balasan dari pemilik akun @hashtagmonika. “It’s true, however we’ve invited him and he was shocked that we did. No one ever invited him on the same excursion before. Gede was happy to participate with us everywhere,”
Jika diterjemahkan, “Memang benar, tetapi kami telah mengundangnya dan dia terkejut karena kami melakukannya. Tidak ada yang pernah mengundangnya dalam perjalanan yang sama sebelumnya. Gede senang berpartisipasi dengan kami di mana pun,” ujarnya.
Pemilik akun lain, juga sempat berbagi pengalaman mereka saat mengajak driver menikmati momen liburan atau makan bersama.
“Yes, me and husband will always invite and get them join in especially during meal time or just snacking away. If they shy off we always offer to pack them, if they refused we jst pack it and ‘force’ them to take it, and always say ‘rezeki untuk anak-anak/family’. sharing foods especially is like a sharing blessing in our culture,” tulis pemilik akun @meduzzazz.
Jika diterjemahkan, hal itu berarti, “Ya, saya dan suami selalu mengajak mereka ikut makan, terutama saat jam makan atau sekadar ngemil. Kalau mereka malu, kami selalu menawarkan untuk mengepak, kalau mereka menolak, kami hanya membungkus dan ‘memaksa’ mereka untuk mengambilnya. Dan selalu bilang ‘rezeki untuk anak-anak/keluarga’. Berbagi makanan khususnya adalah seperti berbagi berkat dalam budaya kami,” ungkapnya.
Pemilik akun lain juga membagikan pengalaman serupa. “I treated my driver to breakfast and lunch every day and brought him with me everywhere. I also tipped him so much that he said his wife treated him to a back massage and made him a fancy dinner when he got home. Love the Balinese people so much! Such positive, magical humans,” tulis pemilik akun @char_coll.
Jika diterjemahkan, komentar tersebut berarti: “Saya mentraktir supir saya sarapan dan makan siang setiap hari dan membawanya ke mana-mana. Saya juga memberinya tip yang sangat banyak sehingga dia bilang istrinya mentraktirnya pijat punggung dan membuatkannya makan malam mewah saat dia pulang. Saya sangat suka orang Bali! Orang-orang yang sangat positif dan ajaib,” ujarnya.
Postingan dan komentar-komentar dalam akun media sosial itu menggugah para wisatawan untuk semakin berbuat baik kepada para driver di Bali.
Mengingat driver-driver pariwisata di Bali seringkali hanya mengantarkan para wisatawan berkunjung, namun mereka sendiri belum pernah berwisata ke sana. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya