Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Buntut Bocah Tewas Karena Rabies, Pemerintah Gencarkan Vaksinasi

Muhammad Basir • Rabu, 21 Mei 2025 | 15:30 WIB

 

SUNTIK DULU: Vaksinasi rabies pada anjing peliharaan warga.
SUNTIK DULU: Vaksinasi rabies pada anjing peliharaan warga.

RadarBuleleng.id - Kasus rabies di Kabupaten Jembrana, Bali, terus melonjak. Dalam lima bulan terakhir, tercatat 47 kasus positif rabies, nyaris menyamai jumlah total kasus sepanjang tahun lalu yang mencapai 56 kasus.

Bahkan seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun dinyatakan meninggal akibat terjangkit virus rabies.

Lonjakan tersebut mendorong pemerintah daerah untuk menggelar vaksinasi massal secara agresif. Terutama di desa-desa yang masuk kategori zona merah rabies. 

“Selain vaksinasi massal di zona merah, kami juga lakukan vaksinasi emergency di lokasi yang baru ditemukan kasus positif,” ujar Pelaksana Tugas Kabid Keswan-Kesmavet pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gede Putu Kasthama.

Baca Juga: Amor ing Acintya. Bocah 8 Tahun di Bali jadi Korban Rabies

Salah satu lokasi yang baru disasar adalah Kelurahan Banjar Tengah. Vaksinasi digencarkan lantaran seekor anjing peliharaan warga, ternyata positif rabies.

Setelah menggigit manusia, anjing tersebut mati. Tim kemudian melakukan pengujian sampel ke laboratorium. Ternyata hasil uji laboratorium menunjukkan ada infeksi virus rabies.

Saat ini, tim masih fokus menjalankan vaksinasi massal di Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo. Desa itu menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kasus tertinggi.

“Kami targetkan vaksinasi darurat juga akan dilakukan di sekitar titik kasus terbaru,” tambah Kasthama.

Baca Juga: Cegah Penyebaran Rabies di Buleleng, Puluhan Anjing Disterilisasi

Selama periode Januari hingga Mei 2025, sebanyak 72 sampel hewan penular rabies telah diuji. Hasilnya, 47 ekor diantaranya positif rabies, sedangkan 25 ekor lainnya negatif. Kecamatan Mendoyo mencatat angka tertinggi dengan 23 kasus positif.

Upaya vaksinasi ditargetkan untuk menjangkau minimal 80 persen dari total populasi hewan penular rabies (HPR) yang diperkirakan mencapai 41.668 ekor.

“Kami terus kebut vaksinasi agar rantai penularan rabies bisa ditekan,” tegas Kasthama.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan, dalam kurun Januari hingga April 2025, tercatat 1.906 kasus gigitan HPR di Jembrana. 

Beberapa di antaranya melibatkan hewan yang terkonfirmasi positif rabies. Dua warga dilaporkan meninggal dunia dengan status suspek rabies.

“Tingginya kasus ini bergantung pada pengendalian HPR. Kalau hewannya tidak tertangani dengan baik, maka manusianya yang akan terdampak,” terang Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Jembrana, I Gede Ambara Putra.

Ambara menekankan pentingnya kolaborasi antara instansi terkait dan partisipasi masyarakat dalam mengendalikan rabies. Salah satu caranya, yakni melakukan vaksinasi HPR secara berkala.

“Kalau vaksinasi dilakukan maksimal, gigitan pada manusia juga akan menurun drastis,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #bocah #jembrana #virus #zona merah #vaksinasi #anjing #rabies #positif