Radarbuleleng.jawapos.com- Penulis muda di Bali utara diminta untuk tidak ragu dalam berkarya.
Apalagi Kabupaten Buleleng disebut ”tanah karya”, karena banyak karangan yang benar-benar menarik perhatian khalayak ramai.
Merujuk data terakhir, jumlah buku yang ada di Kabupaten Buleleng, tercatat ada 1.021 karya umum dan 2.575 kesusastraan.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAPD) Kabupaten Buleleng, Made Era Oktarini mengatakan, budaya bukan hanya warisan benda atau tradisi, maka dari itu penting untuk dicatat, ditulis, hingga diwariskan.
”Buleleng adalah tanah yang kaya akan budaya dan cerita. Dari legenda Jayaprana–Layonsari, tari Trunajaya, hingga tokoh perjuangan seperti I Gusti Ketut Puja. Semuanya adalah bahan baku penulisan yang luar biasa,” ujarnya pada Selasa (1/7).
Maka dari itu, pihaknya mengajak generasi muda untuk bisa menulis. Bukan sekedar saja, tetapi menjadi sebuah gerakan kebudayaan yang berujung sebagai upaya strategis, untuk menghidupkan kembali warisan budaya lokal melalui karya tulis.
Tentu dengan penulisan yang bermakna dan relevan dengan perkembangan era digitalisasi saat ini, generasi muda tak hanya wajib piawai secara teknis.
Tetapi juga memiliki kepekaan dalam menyampaikan nilai-nilai budaya, dengan rasa dan makna yang mendalam.
Sebab warisan budaya juga tumbuh dari tutur lisan, upacara adat, kain tenun, kidung, hingga kisah-kisah lokal di tengah kehidupan masyarakat Bali.
”Kami ingin lahir tulisan-tulisan yang mampu menghidupkan kembali kekayaan budaya dalam wajah kekinian. Tulisan yang tak hanya dibaca hari ini, tapi juga dikenang dan diwariskan untuk generasi mendatang,” lanjut Era Oktarini.
DAPD Buleleng berharap agar karya-karya yang muncul, tidak hanya menjadi dokumen pribadi, tetapi bisa berkembang menjadi konten kreatif di ruang digital.
Sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan budaya, serta kebanggaan kolektif masyarakat Buleleng.***
Editor : Donny Tabelak