RadarBuleleng.id - Berawal dari kegelisahannya melihat sampah berserakan di sejumlah pantai di Bali, seorang warga negara asing asal Prancis, Mickael Couturier, justru melahirkan karya seni unik berbahan limbah.
Hampir setiap hari, ia menyusuri garis pantai, memungut sampah. Mulai dari sandal, sepatu bekas hingga mainan anak-anak yang hanyut terbawa arus.
Sampah-sampah itu dikumpulkan, lalu dipotong berbentuk dadu, khususnya untuk jenis sandal atau sepatu karet.
Potongan kecil itu kemudian ia rangkai menjadi mosaik berukuran beragam. Dalam karyanya, Mickael banyak menampilkan potret wajah anak-anak yang ia temui dalam perjalanannya.
Ditemui di Sanur, Denpasar Selatan, pria yang sudah empat tahun tinggal di Bali ini bercerita bahwa sebagian besar karyanya menggambarkan kondisi anak-anak, termasuk mereka yang hidup di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.
Baca Juga: Nekat Selundupkan Ganja ke Bali, WNA Rusia Dihukum 5 Tahun 8 Bulan Penjara
Beberapa karyanya diberi judul khas, seperti Child Portrayed, Felud, 11 years hingga potret seorang bocah bernama Febry.
Menariknya, setiap karya dilengkapi barcode yang bisa dipindai. Melalui barcode tersebut, penikmat seni dapat melihat visualisasi yang membuat potret anak-anak dalam karya itu seolah hidup.
“Karya saya terinspirasi dari anak-anak. Sampah-sampah seperti sandal yang saya kumpulkan dari pantai, saya rangkai kembali menjadi mosaik seni,” ujar Mickael.
Ia menambahkan, hasil penjualan karya seni ini digunakan untuk kegiatan sosial.
Tak berhenti berkarya, Mickael bersama rekan-rekannya juga aktif membantu anak-anak yang tinggal di kawasan TPA Suwung.
“Kami memberikan pelatihan dan edukasi untuk mereka. Melalui seni ini, hasil penjualannya kami gunakan untuk mendukung masa depan anak-anak tersebut,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya