Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Duh! Imbas Banjir, Ratusan Hektare Sawah di Bali Kini Terancam Gagal Panen

Muhammad Basir • Senin, 15 September 2025 | 14:49 WIB
BANJIR: Sawah yang terendam banjir di Kabupaten Jembrana, Bali.
BANJIR: Sawah yang terendam banjir di Kabupaten Jembrana, Bali.

RadarBuleleng.id - Banjir yang melanda kawasan Jembrana, Bali, pada Rabu (10/9/2025) pekan lalu berdampak besar pada sektor pertanian. 

Data terbaru mencatat, sedikitnya 301,3 hektare sawah di kawasan Bali Barat terendam banjir. 

Namun, kepastian apakah lahan tersebut mengalami puso atau gagal panen masih menunggu hasil pendataan lebih lanjut, lantaran usia tanaman dan tingkat kerusakan berbeda-beda.

Sebaran kerusakan paling luas berada di Kecamatan Jembrana dengan 114 hektare, disusul Kecamatan Negara 95,5 hektare, Melaya 70 hektare, dan Mendoyo 10 hektare. Sementara Kecamatan Pekutatan tercatat nihil.

“Kami masih melakukan pendataan di lapangan bersama BPBD Jembrana. Angka 301,3 hektare ini kemungkinan masih bertambah. Estimasi nilai kerugian juga masih dihitung,” ujar Kabid Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma.

Ia menjelaskan, dampak banjir tidak hanya berupa rendaman air, tetapi juga material berupa tanah, batu, sampah, hingga pohon tumbang. 

Sejumlah sawah di pinggir Jalan Denpasar–Gilimanuk, khususnya Desa Baluk hingga Desa Banyubiru, terendam material batu dari pondasi penahan tanah yang jebol.

“Kalau usia tanam masih muda, masih bisa ditanam ulang setelah material dibersihkan. Tapi jika dibiarkan, sudah pasti gagal panen,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya menekankan bahwa tingkat kerusakan akan sangat dipengaruhi lama waktu sawah tergenang. 

Sawah yang hampir panen dan terendam lebih dari tiga hari berpotensi besar mengalami puso. 

“Untuk memastikan, kami akan cek kembali kondisi tanaman setelah lewat tiga hari banjir,” tambahnya.

Banjir juga merusak sejumlah saluran irigasi primer dan sekunder, bahkan beberapa pompa air di sumur bor ikut rusak karena terendam. 

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah baru. Yakni ancaman kekeringan bagi petani. 

Karena itu, Dinas Pertanian Jembrana memastikan pemantauan terus dilakukan agar dampak lanjutan bisa segera diantisipasi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #sumur bor #irigasi #jembrana #pangan #pertanian #bali barat #sawah #puso #gagal panen #hektare #banjir #tanaman #pompa air