Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jalan Kaki ala Beijing, Cara Murah Menjadi Sehat di Negeri Tirai Bambu

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯
JALAN KAKI: Suasana di kampus Renmin University of China. Sehari-hari mahasiswa terbiasa berjalan kaki atau mengayuh sepeda menuju asrama dan gedung perkuliahan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
JALAN KAKI: Suasana di kampus Renmin University of China. Sehari-hari mahasiswa terbiasa berjalan kaki atau mengayuh sepeda menuju asrama dan gedung perkuliahan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

Advertisement

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya. 

TINGGAL di Beijing perlahan mengubah kebiasaan saya. Sesuatu yang dulu terasa berat di Bali, kini justru menjadi rutinitas harian yang sulit dihindari: berjalan kaki.

Advertisement

Setiap hari, jam tangan pintar saya nyaris selalu mencatat angka 10 ribu langkah. Sebuah pencapaian yang sebelumnya cukup sulit saya raih saat masih berada di Buleleng. Bedanya sederhana. Di Beijing, sistem kehidupan memaksa orang bergerak.

Selama berada di Renmin University of China, kampus tempat saya menetap tiga bulan ke depan, berjalan kaki menjadi bagian dari keseharian. 

Mau makan, harus jalan kaki. Mau ke gedung kuliah, jalan kaki lagi. Bahkan sekadar membeli kopi atau camilan, tetap harus melangkah cukup jauh.

Advertisement

Kantin langganan saya berada sekitar 10 menit dari apartemen. Karena biasanya makan dua kali sehari di tempat yang sama, otomatis ada sekitar 40 menit waktu berjalan kaki setiap hari. 

Kalau sedang bosan dengan menu kantin, saya memilih berjalan ke area 7-Eleven di dalam kampus untuk membeli bento atau sushi.

Namun semua berubah ketika hujan turun. Cuaca dingin Beijing membuat kamar terasa jauh lebih menggoda. 

Rebahan di balik selimut sambil menonton drama China menjadi pilihan paling nyaman. Sekalian belajar sedikit demi sedikit bahasa Mandarin. 

Advertisement
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng

Artikel Terkait

Menyusuri Beijing, Kota yang Didominasi Kendaraan Listrik

Menyusuri Beijing, Kota yang Didominasi Kendaraan Listrik

Beijing menjadi kota yang didominasi kendaraan listrik, mulai dari mobil hingga skuter. Tiongkok juga menunjukkan dominasi merek lokal dalam industri otomotif modern.

Menyusuri Diplomasi Tiongkok dari Ruang Jurnalisme di Beijing

Menyusuri Diplomasi Tiongkok dari Ruang Jurnalisme di Beijing

Pembukaan CIPCC di Beijing mempertemukan jurnalis dari berbagai negara berkembang. Tiongkok membuka diri lewat diplomasi media, teknologi, dan pertukaran budaya.

Belajar Mandarin di Beijing, Saat Bahasa Inggris Tak Lagi Banyak Membantu

Belajar Mandarin di Beijing, Saat Bahasa Inggris Tak Lagi Banyak Membantu

Pengalaman mengikuti kelas Bahasa Mandarin di Beijing membuka cerita unik saat Bahasa Inggris ternyata tak banyak membantu selama berada di Tiongkok.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer