RadarBuleleng.id - Komunitas di Bali menggelar peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025 di Lapangan Renon, Denpasar, Sabtu (29/11/2025) sore.
Aksi itu dilakukan lewat kegiatan workshop kreatif bertajuk Pernak Piknik di area lapangan.
Acara ini menjadi ruang alternatif untuk mengkampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dengan cara yang lebih hangat dan mudah diterima publik.
Berbagai aktivitas dihadirkan, mulai dari merangkai bunga, membuat aksesori manik-manik, menulis puisi, melukis gantungan kunci, hingga membuat cukil dan zine.
Selain keseruan workshop, peserta juga mendapat catatan singkat mengenai kekerasan terhadap perempuan di Papua yang disampaikan komunitas Kamis Manis Bali, aliansi mahasiswa Papua yang aktif mengadvokasi isu tersebut.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal acara. Di sela-sela aktivitas kreatif, mereka berdiskusi mengenai berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, termasuk bagaimana kasus serupa masih marak terjadi di Papua.
Koordinator acara, Tabitha Angelica mengatakan, Pernak Piknik digagas agar peringatan 16 HAKTP bisa lebih dekat dan diminati masyarakat Bali.
Dengan suasana santai, pihaknya berharap pesan kampanye tetap tersampaikan tanpa meninggalkan esensi perjuangan.
“Komunitas-komunitas yang ikut terlibat masih beririsan dan sering membuat acara bersama. Semuanya gratis dan terbuka untuk umum,” ujar Tabitha.
Pemilihan ruang terbuka hijau dilakukan agar publik dapat langsung menyaksikan sekaligus ikut merasakan atmosfer kampanye.
Tabitha menyebut, peringatan 16 HAKTP yang berlangsung 25 November–10 Desember bukan sekadar agenda tahunan, tetapi simbol perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan struktural.
“Setiap keputusan politik selalu berdampak pada perempuan. Politik hadir dalam hidup kita, dan perempuan sering kali yang paling merasakan dampaknya,” ucapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya