Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Aksi Protes Petani Jatiluwih Berlanjut. Selain Pasang Seng, Petani juga Pasang Plastik Hitam

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 6 Desember 2025 | 01:13 WIB

 

AKSI PROTES: Petani memasang plastik hitam sebagai simbol protes atas penertiban fasilitas akomodasi pariwisata yang dinilai tebang pilih.
AKSI PROTES: Petani memasang plastik hitam sebagai simbol protes atas penertiban fasilitas akomodasi pariwisata yang dinilai tebang pilih.

RadarBuleleng.id - Gelombang protes kembali terjadi di kawasan wisata Terasering Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, kembali berlanjut.

Kemarin (5/12/2025) puluhan petani kembali memasang lembaran seng di petak-petak lahan milik mereka.

Selain itu petani juga memasang plastik hitam di tengah area persawahan sebagai bentuk penolakan dan desakan agar pemerintah segera membuka ruang dialog terkait penertiban usaha warga.

Aksi tersebut merupakan lanjutan dari aksi protes yang digelar warga pada Kamis (4/12/2025). 

Petani yang terlibat dalam aksi tersebut makin bertambah jumlahnya. Sedikitnya 30 petani terlibat, dengan pemasangan seng mencapai puluhan lembar di titik-titik strategis lahan pertanian dan jalur subak.

Adapun aksi protes tersebut merupakan reaksi para petani atas penertiban dan penutupan sejumlah usaha kuliner dan akomodasi lokal di kawasan Jatiluwih oleh Pansus TRAP DPRD Bali bersama Satuan Pol PP Bali dan Pemkab Tabanan saat sidak pada Selasa (2/12/2025) lalu.

Selain seng memasang seng, sejumlah petani juga membentangkan plastik berwarna hitam sepanjang 15–20 meter di area persawahan untuk menutup pemandangan ikon wisata tersebut.

Salah satu warga, I Wayan Subadra menyebut aksi tersebut bukan sekadar protes, tetapi dorongan moral agar pemerintah segera memberi kepastian.

“Sudah 30 lembar seng dipasang di sekitar Warung Sunari dan sepanjang jalur subak selatan. Besok ada tambahan 65 lembar lagi yang akan dipasang. Lokasinya sedang kami bahas,” ujar Subadra yang juga pemilik Warung Wayan Jatiluwih - salah satu warung termasuk dalam daftar 13 usaha yang ditutup.

Menurutnya, pemasangan seng dilakukan antara pukul 09.00–11.00 WITA dengan dukungan material dari pelaku usaha lain di kawasan tersebut. Plastik hitam sepanjang sekitar 40 meter juga dipasang sebagai simbol penolakan.

“Kami ingin pemerintah mau duduk bersama dan mencari solusi terbaik. Perlu regulasi yang jelas, agar kejadian seperti ini tidak terulang dan pelaku usaha kecil tidak merasa terancam,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan I Nengah Sridana. Menurutnya, seng dan plastik juga dipasang di area Tempek Telabah Gede dan Tempek Telabah Muntig, sebagai bentuk solidaritas antar petani.

“Aksi ini kami lakukan supaya kedepan usaha kecil tidak langsung ditindak tanpa komunikasi. Kami ingin suara rakyat didengar, bukan hanya diberi janji,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, Sekda Tabanan maupun Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan warga dan langkah tindak lanjut pemerintah daerah.

Warga berharap penertiban yang dilakukan pemerintah tidak hanya berfokus pada penegakan aturan. Tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata berbasis pertanian di kawasan UNESCO World Heritage Site tersebut. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #persawahan #seng #warga #aksi protes #Pansus TRAP #petani #Jatiluwih #penertiban #subak #lahan #tabanan #pol pp #dprd bali #plastik #protes