SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pembangunan jalur shortcut Jalan Raya Singaraja-Mengwitani titik 9-10 resmi dimulai.
Dari tiga paket pekerjaan yang ada, paket 1 dan paket 2 mulai dilakukan. Sementara paket 3 akan masuk proses tender tahun ini.
Proses ground breaking pembangunan shortcut berlangsung di Banjar Dinas Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Rabu (7/1/2026). Ground breaking dilakukan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Proyek tersebut menjadi bagian penting peningkatan konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan.
Total panjang shortcut 9–10 mencapai 3,9 kilometer, terdiri atas jembatan sepanjang 942 meter dan jalan baru sepanjang 2,95 kilometer. Sementara kondisi jalan eksisting sebelumnya sepanjang 3,29 kilometer.
Dari sisi teknis, jalan lama memiliki kelandaian hingga 21,8 persen dengan 38 tikungan tajam. Melalui proyek ini, kelandaian diturunkan menjadi maksimal 10 persen dengan jumlah tikungan berkurang drastis menjadi 12 titik.
Untuk paket 1, pembangunan dikerjakan oleh Waskita Karya–PT Sinar Bali KSO dengan nilai kontrak Rp 290,84 miliar.
Panjang penanganan paket ini mencapai 1,52 kilometer, terdiri dari pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer serta tiga jembatan dengan total panjang 593 meter.
Sementara itu, paket 2 dimenangkan oleh PT Nindya Karya–Tunas Jaya Sanur KSO dengan nilai kontrak Rp 187 miliar.
Panjang penanganan paket ini mencapai 1,1 kilometer, meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,88 kilometer dan dua jembatan dengan total panjang 220 meter.
Selain paket 1 dan 2, Kementerian Pekerjaan Umum juga menyiapkan paket 3 dengan nilai Rp 189,71 miliar yang saat ini masih dalam proses persiapan tender. Targetnya proses tender bisa berlangsung pada tahun ini.
Direktur Pembangunan Jalan Kementerian PU, Asep Syarip Hidayat mengatakan, keberadaan jalur shortcut ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi perjalanan dan keselamatan lalu lintas.
“Keberadaan jalur shortcut mengurangi waktu tempuh dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit. Selanjutnya mengurangi jumlah tikungan dari 58 titik menjadi 21 titik, serta menurunkan kelandaian jalan dari maksimal 27 persen menjadi maksimal 10 persen,” jelas Asep.
Tak hanya itu, proyek ini juga berdampak pada keselamatan pengguna jalan. “Shortcut ini menurunkan angka ekivalensi kecelakaan dari kategori sangat berbahaya menjadi aman,” imbuhnya.
Asep menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali telah membebaskan 316 bidang tanah untuk titik 3–10 dengan nilai mencapai Rp 193 miliar.
Untuk penuntasan seluruh ruas, masih diperlukan pengerjaan titik 1–2, titik 9–10 melalui paket 3, serta titik 11–12 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 512 miliar.
“Proses pengerjaan shortcut ini sudah dimulai sejak 2018 dengan total nilai Rp 486 miliar. Kami upayakan tender titik 9-10 paket 3 selesai tahun ini. Sedangkan untuk titik 11–12, studi harus rampung tahun ini,” tegasnya.
Baca Juga: Viral Dituding Pungli, Pekerja Jerambah Gilimanuk Klaim Sudah Beri Jasa Bukan Minta Uang Percuma
Ia juga berpesan kepada para penyedia jasa agar bekerja dengan penuh tanggung jawab.
“Bekerjalah dengan hati dan ilmu. Dengan hati kita jaga niat dan integritas, dengan ilmu kita bisa berinovasi dan menjaga mutu,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan, proyek shortcut Singaraja–Mengwitani merupakan prioritas utama sejak awal masa kepemimpinannya. Ia mengaku langsung bertemu Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, hanya dua minggu setelah Koster dilantik.
“Begitu saya dilantik, dalam waktu dua minggu saya ketemu Pak Menteri PU untuk membicarakan shortcut ini. Saya mohon agar pembangunan berlanjut karena kebutuhannya mendesak untuk layanan transportasi penumpang, logistik, dan pariwisata. Astungkara beliau setuju,” ujar Koster.
Ia menjelaskan, kontribusi Pemprov Bali dalam proyek ini adalah pembebasan lahan, termasuk penyusunan DED dan studi kelayakan.
Selain shortcut 9–10, Pemprov juga mendorong percepatan pembangunan titik 11–12 karena kondisi medan yang berat.
“Kenapa saya prioritaskan? Karena medannya berat dan ini akan sangat membantu lalu lintas serta aktivitas masyarakat. Saya minta yang Singaraja dibereskan duluan,” tegasnya.
“Bagi masyarakat Buleleng, ini bukan jalan shortcut, tapi jalan tol. Pemandangannya indah, aktivitas Singaraja–Denpasar terbantu, bahkan bus-bus dari Jawa ke Bali sekarang sudah lewat sini. Dampaknya, ada yang menginap di Buleleng,” imbuhnya.
Koster optimistis geliat ekonomi Buleleng akan semakin meningkat, terlebih dengan selesainya pembangunan Turyapada Tower pada Desember mendatang.
“Buleleng akan kebagian rezeki,” ucapnya.
Koster pun menegaskan agar proyek ini dikerjakan dengan kualitas terbaik dan tepat waktu.
“Harus kualitas kelas satu. Kalau musim hujan, ya dipikir. Kalau tidak bisa bekerja saat hujan, ya bekerja saat tidak hujan. Bisa dua shift atau cara lain,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya