SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang selama ini dijalankan umat Hindu di Bali kembali ditegaskan kesesuaiannya dengan sumber sastra kuno.
Penegasan itu merujuk pada lontar Sundarigama yang tersimpan dan terverifikasi di Museum Lontar Gedong Kirtya, Singaraja.
Dalam lontar tersebut, Nyepi secara tegas disebut dilaksanakan sehari setelah tilem kesanga, bukan tepat pada saat tilem kesanga.
Hal itu diungkapkan oleh praktisi lontar sekaligus budayawan Bali, Sugi Lanus. Pada Sabtu (10/1/2026) ia mendatangi Gedong Kirtya untuk membaca kembali Lontar Sundarigama yang tersimpan di sana.
Sugi Lanus mengatakan, polemik yang muncul belakangan ini terkait pelaksanaan Nyepi bersumber dari kesalahan membaca dan menafsirkan lontar yang beredar di masyarakat, terutama versi salinan dan terjemahan yang tidak utuh.
Filolog asal Buleleng itu menegaskan, lontar Sundarigama yang tersimpan di Gedong Kirtya telah ia bandingkan langsung dengan naskah lain yang berada di UPT Perpustakaan Lontar Universitas Udayana, Pusat Dokumentasi (Pusdok) Dinas Kebudayaan Bali, serta koleksi lontar di Kirtya. Hasilnya, isi lontar tersebut konsisten dan saling menguatkan.
Ia menyebut, kesalahan fatal justru ditemukan pada naskah yang beredar luas, khususnya akibat loncatan halaman.
“Kesalahan terjadi di purwani, sehari sebelum tilem, loncat ke Nyepi, tidak ke penanggal apisan. Ini yang paling mendasar,” jelasnya.
Dalam salah satu versi, disebutkan terjadi kesalahan pada bagian purwani (sehari sebelum tilem), yang langsung meloncat ke Nyepi tanpa melalui penanggal apisan. Padahal, purwani memiliki posisi ritual yang sangat mendasar dan tidak dapat dilewati.
Dalam penjelasannya, Sugi Lanus menguraikan bahwa purwani adalah tahap persiapan Bhuta Yadnya, bukan puncak atau pemuput upacara. Pada hari purwani, seluruh sarana caru telah disiapkan, namun belum di-puput.
Kesalahan tafsir terjadi karena banyak pembaca lontar tidak memahami perbedaan istilah ritual seperti gawe akene dan gelar akene.
Ia juga menjelaskan, pada hari tilem, umat melaksanakan rangkaian upacara penyucian yang sangat panjang. Mulai dari pengiringan pratima ke laut untuk prosesi penyucian kepada Sang Hyang Baruna, hingga pemuputan caru yang sebelumnya disiapkan saat purwani.
Rangkaian ini ditutup dengan ritual ngerupuk di masing-masing pekarangan, memulangkan Bhuta Kala dengan obor, masui, serta mantra penolak bala.
Setelah seluruh rangkaian itu selesai pada hari tilem, barulah keesokan harinya umat melaksanakan penyepian. Pada hari inilah Catur Brata Penyepian dijalankan secara penuh, termasuk amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan, penyepian dilaksanakan pada penanggal apisan sasih kedasa. Penyepian dimaknai sebagai jalan spiritual untuk mencapai kesunyian, tapa, yoga, dan semadi.
Jika kewajiban ini tidak dilaksanakan, lontar tersebut menyebutkan akan terjadi kekacauan kosmis, di mana manusia dirasuki Bhuta Kala dan perilaku dunia menjadi menyimpang.
“Disebutkan besoknya setelah tilem, barulah menggelar penyepian dengan memadamkan api. Umat tidak dibolehkan melakukan semua kegiatan yang berurusan dengan api. Kalau itu tidak dilaksanakan, maka akan menyebabkan kekacauan di dunia. Manusia dirasuki Bhuta Kala dan disantap oleh Hyang Adi Kala,” kata Sugi Lanus mengutip isi lontar.
Sugi juga menegaskan bahwa Nyepi dalam tradisi Bali tidak semata-mata dikaitkan dengan pergantian tahun Saka, melainkan berhubungan erat dengan siklus ritual sasih kedasa.
Ia mencontohkan di Desa Adat Buleleng, sasih kedasa justru menjadi momen penting menyambut odalan dewa pada purnama kedasa, sebagaimana disebutkan dalam tradisi Sima Desa Tua Samayaji Beratan.
Keabsahan lontar Sundarigama, menurut Sugi Lanus, diperkuat oleh keberadaan naskah serupa di beberapa institusi resmi negara. Selain Gedong Kirtya, lontar dengan isi yang sama juga tersimpan di Denpasar, koleksi keluarga di Bungkulan, hingga lontar yang dahulu dimiliki almarhum I Made Kawi. Kesamaan isi ini menunjukkan bahwa Sundarigama bukanlah teks baru atau hasil ketikan modern, melainkan warisan sastra ritual yang telah lama dijaga.
Ia menekankan bahwa sumber utama pedoman Nyepi seharusnya merujuk pada lontar yang tersimpan di lembaga negara, bukan pada salinan rumah tangga atau kutipan daring yang tidak disertai bukti naskah asli. Menurutnya, tidak satupun versi yang beredar luas di ruang digital menyertakan foto lontar maupun kutipan langsung dari sumber primer.
Sebagai bentuk tanggung jawab akademik, Sugi Lanus menyatakan akan menyusun brosur pedoman pelaksanaan Tawur Kesanga dan Nyepi berdasarkan lontar Sundarigama yang utuh.
Ia berharap upaya tersebut menjadi momentum penting literasi lontar di Bali, sekaligus mengembalikan pemahaman umat pada jejak pemargi leluhur yang telah berjalan selama ratusan tahun.
Ia pun mengapresiasi umat Hindu yang selama ini membela Sundarigama dengan penuh semangat. Menurutnya, semangat tersebut perlu diarahkan pada rujukan yang benar agar pelaksanaan Nyepi tetap lurus, utuh, dan selaras dengan ajaran leluhur.
“Semoga jalannya Nyepi tetap seperti Sundarigama yang utuh, seperti pemargi leluhur yang sudah berjalan selama ini,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya