RadarBuleleng.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini menyusul munculnya Bibit Siklon Tropis 96S di perairan Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat.
Siklon berpotensi memicu hujan lebat hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan. Termasuk di Provinsi Bali.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus BMKG, Miming Saepudin, menjelaskan Bibit Siklon Tropis 96S terpantau pertama kali pada Selasa (14/1/2026) pukul 13.00 WIB dan masih berada dalam wilayah monitoring Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.
“Hari Kamis, 15 Januari 2026 pukul 07.00 WIB pusat sirkulasi berada di sekitar 13.6°LS 117.3°BT, di Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat. Kecepatan angin maksimum yang terpantau saat ini 20 knot (37 km/jam) dengan tekanan udara minimum 1002 hPa,” ujar Miming.
Berdasarkan pengamatan citra satelit dalam 12 jam terakhir, aktivitas konvektif sistem ini terpantau cukup fluktuatif.
Namun pada Kamis pagi, terlihat adanya peningkatan signifikan dengan mulai terbentuknya area awan padat atau dense overcast di sekitar pusat sirkulasi yang disertai deep convection.
“Aktivitas konvektif lainnya juga terpantau di sekitar selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur,” katanya.
BMKG juga mencatat pertumbuhan awan konvektif masif di sisi barat daya sistem. Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh kuatnya vertical wind shear di sekitar bibit siklon.
Sementara itu, analisis angin per lapisan menunjukkan sirkulasi pada lapisan permukaan mulai tertutup dan melebar hingga ketinggian 700 hPa. Pada lapisan 500 hPa, sirkulasi justru cenderung bergeser lebih ke barat.
Miming menambahkan, Bibit Siklon Tropis 96S didukung oleh sejumlah faktor atmosfer yang cukup kondusif.
Di antaranya aktifnya gelombang Low Equator, suhu muka laut hangat berkisar 28–30 derajat Celsius, kelembapan udara yang basah di hampir seluruh lapisan, serta vortisitas yang mendukung dari lapisan permukaan hingga menengah.
“Namun demikian, vertical wind shear dalam kategori kuat, yakni 30–40 knot, masih menjadi faktor penghambat pertumbuhan sistem,” jelasnya.
BMKG memprakirakan dalam 24 jam ke depan intensitas Bibit Siklon Tropis 96S akan terus meningkat. Hal ini ditandai dengan sirkulasi yang semakin tertutup di lapisan permukaan dan menengah serta peningkatan kecepatan angin maksimum hingga 25 knot atau sekitar 46 km/jam, terutama di sektor tenggara sistem, dengan arah pergerakan ke barat daya.
Dalam 48 jam ke depan, sistem diperkirakan masih berkembang secara persisten dan tetap bergerak ke arah barat daya.
Namun pada periode 72 jam berikutnya, sirkulasi diprediksi mulai melebar dengan kecepatan angin maksimum menurun kembali hingga sekitar 20 knot.
Meski tidak berdampak langsung, keberadaan Bibit Siklon Tropis 96S berpotensi memengaruhi kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia hingga Jumat (16/1/2026) pukul 07.00 WIB. BMKG mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Dampak yang perlu diantisipasi antara lain hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Selain itu, gelombang laut kategori sedang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah, perairan selatan Jawa Tengah hingga selatan Pulau Sumba, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Sumba, serta Laut Sawu.
Sementara itu, gelombang laut kategori tinggi dengan ketinggian 2,5–4 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga perairan selatan Nusa Tenggara Timur.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan operator pelayaran, untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan oleh sistem cuaca ini. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya